nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kekeringan, Padi di Kebumen Jadi "Cungkring" saat Dipanen

krjogja.com, Jurnalis · Senin 22 Juli 2019 11:17 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 07 22 512 2081903 kekeringan-padi-di-kebumen-jadi-cungkring-saat-dipanen-641zNS29fq.jpg Foto: Dasih Darmawati/KRJogja

KEBUMEN - Sebagian petani Kebumen yang sawahnya kekurangan air irigasi sejak Mei 2019 lalu, akhirnya mulai panen pada Minggu 21 Juli.

"Dengan kondisi lahan yang kekurangan air tentu saja hasil panen cukup mengecewakan, karena turun drastis dibanding musim tanam lalu," ungkap petani Desa Bocor Kecamatan Buluspesantren Kebumen, Sudirnan, di lahannya.

Sudiran menanam padi berumur pendek yaitu IR 64 pada akhir April 2019 lalu. Panen dilakukannya saat umur padinya 90 hari. Diungkapkannya, sejak awal Mei 2019 lalu pasokan air irigasi ke lahannya terhenti. Dirinya berusaha sekuat tenaga mempertahankan tanamannya hingga tiba waktu panen dengan penyiraman menggunakan air tanah yang disedot mesin diesel, dua kali dalam seminggu.

Ilustrasi

"Hasil ikhtiar itu akhirnya bisa terlihat sekarang, tanaman bisa tetap hidup dan dipanen tapi kondisinya terlihat kurang segar atau 'cungkring' menurut istilah kami di sini," ujar Sudiran di sawahnya seluas 600 meter pesegi.

Pada musim tanam lalu yang berlangsung pada musim penghujan, hasil panen Sudiran mencapai 6 kuintal gabah basah dengan kualitas tanaman maupun gabah benar-benar bagus karena kebutuhan air tercukupi.

"Sekarang dengan kondisi sulit air hasil panen turun menjadi 4 kuintal saja," ujar Sudiran.

Baca Juga: 100.230 Warga Terdampak Kekeringan di Pulau Jawa

Selain di Bocor, sawah yang minim air irigasi di 13 desa lainnya di Kecamatan Buluspesantren seperti Banjur Pasar, Endrosari dan Ambal Kumolo serta sejumlah desa di Kecamatan Ambal, Petanahan, Klirong dan Puring juga mulai musim panen.

"Namun di sini banyak juga petani yang tak sempat panen karena membabat habis tanaman padinya untuk dijual sebagai pakan ternak," ungkap Syadzali, petani Desa Endrosari.

Menurut Syadzali jenis-jenis padi tertentu seperti IR 64 dan Ciherang memang kurang cocok dengan kondisi minim air. Dengan produksi padi yang tak maksimal, maka petani juga rugi karena hasil penjualan gabah tak sebanding dengan modal yang dikeluarkan.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini