Share

Rekonsiliasi untuk Bagi-Bagi Kursi Adalah Pelajaran Politik Buruk

Antara, · Rabu 24 Juli 2019 02:09 WIB
https: img.okezone.com content 2019 07 24 605 2082772 rekonsiliasi-untuk-bagi-bagi-kursi-adalah-pelajar-buruk-kCB5CTSCEH.JPG Rocky Gerung

JAKARTA - Pengamat politik Rocky Gerung mengatakan masyarakat akan menerima pembelajaran politik yang buruk jika rencana pertemuan Prabowo dengan Presiden terpilih Joko Widodo dan Megawati Soekarnoputri hanya bertujuan membahas bagi-bagi kursi atau tukar tambah jabatan.

"Hati pendukung Prabowo sudah final, oke silakan kalau mau begitu (rekonsiliasi), namun mereka juga tetap dalam posisi hati nurani punya poin bahwa itu (rekonsiliasi tukar tambah jabatan) buruk untuk pelajaran politik," kata Rocky Gerung di Jakarta, Selasa (24/7/2019).

Rekonsiliasi dengan bagi-bagi jabatan, kata dia, juga akan berdampak lebih dalam lagi kepada demokrasi karena menghasilkan oposisi yang tidak sehat.

"Ya memang tidak sehat oposisi, karena tidak ada yang oposisi kan," kata dia.

Megawati, Jokowi dan Prabowo

Sebelumnya, pengamat politik sekaligus CEO Alvara Research Center Hasanuddin Ali menyebutkan sebaiknya Prabowo Subianto denngan partai politik pengusungnya pada Pemilu Presiden 2019 lalu tetap menjadi oposisi bagi pemerintahan presiden terpilih.

Hasanuddin mengatakan, kalau semua partai politik masuk ke dalam pemerintahan maka demokrasi malah menjadi tidak sehat.

Baca Juga: 9 Capim KPK Asal Polri yang Lolos Uji Kompetensi Diharap Berkompeten

Baca Juga: Gerindra Incar Pimpinan MPR, TKN: Kalau Semua di Dalam Siapa yang Mengontrol?

"Akhirnya cek dan balance tidak terjadi dan semuanya akan setuju dengan apapun yang dilakukan pak Jokowi," katanya. Walaupun terjadi rekonsiliasi, Hasanuddin berharap modelnya bukan dalam bentuk bagi-bagi kekuasaan, dan melupakan betapa pentingnya oposisi.

"Saya lebih sependapat kalau rekonsiliasi itu tidak mengubah postur soal oposisi dan partai pendukung," ujarnya. (aky)

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini