Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

PVMBG: Tsunami di Selatan Jawa Kadang Dimulai dengan Gempa yang Tak Terasa

CDB Yudistira , Jurnalis-Sabtu, 27 Juli 2019 |12:31 WIB
PVMBG: Tsunami di Selatan Jawa Kadang Dimulai dengan Gempa yang Tak Terasa
Ilustrasi
A
A
A

Sejarah Tsunami di perairan selatan Jawa sejarah mencatat, sejak awal abad ke 20, pantai selatan Jawa telah dilanda oleh 20 kali kejadian tsunami yang dipicu oleh goncangan gempabumi.

Wilayah yang pernah dilanda tsunami tersebut adalah Pangandaran (1921, 2006), Kebumen (1904), Purworejo (1957), Bantul (1840), Tulungagung (1859), Jember (1921) Banyuwangi (1818, 1925, 1994).

Pada dekade 1990an dan 2000an, dua tsunami besar melanda Banyuwangi (1994) dan Pangandaran (2006). Tsunami Banyuwangi dipicu oleh gempa bumi dengan magnitudo M7.2 dan menyebabkan 377 orang meninggal.

Sedangkan tsunami Pangandaran yang menyebabkan 550 korban jiwa dipicu oleh gempa bumi skala M7.7 yang menghasilkan gelombang tsunami dengan tinggi 1-6 m dan jarak landaan 100-400 m.

"Salah satu karaterisitik penting tsunami di selatan Jawa adalah tsunami earthquake yaitu tsunami besar yang dipicu oleh kejadian gempa bumi dengan magnitudo relatif kecil dan goncangan kadangkala tidak terasa," ujarnya.

Kejadian tsunami earthquake seperti halnya Tsunami Pangandaran 2006 patut mendapat perhatian lebih karena didahului gempa bumi dengan goncangan lemah sehingga masyarakat sekitar pantai lengah dan tidak sadar terhadap kemungkinan datangnya tsunami.

Upaya mitigasi bencana tsunami dilakukan oleh Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi dengan diantaranya melakukan penelitian endapan tsunami yang bertujuan untuk mengetahui jejak landaan tsunami yang pernah terjadi sebelumnya.

Kemudian membuat Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) Tsunami dengan pemodelan numerik dengan mempertimbangkan potensi gempa bumi maksimum yang mungkin terjadi di lepas pantai suatu daerah.

Peta ini menggambarkan perkiraan jarak landaan dan tinggi rendaman yang mungkin terjadi pada suatu wilayah.

Sosialisasi untuk meningkatkan pemahaman dan ketahanan masyarakat menghadapi tsunami.

Potensi tsunami earthquake di pantai selatan Jawa harus mendapatkan perhatian serius karena jenis tsunami ini dapat didahului oleh gempa bumi yang tidak terlalu besar.

"Kita sebaiknya mengenali wilayah pantai rawan tsunami atau tidak," katanya.

Selain itu juga sebaiknya mendirikan bangunan di luar jangkauan terjangan tsunami dan mengetahui tata cara penyelamatan diri dan membangun atau mempertahankan hutan pantai dan gumuk pasir yang secara alamiah berfungsi sebagai pemecah gelombang atau membuat bangunan pemecah gelombang.

Kemudian membuat pelatihan tata cara menghindari tsunami, sosialisasi, berwawasan bencana tsunami dan sistem peringatan dini tsunami.

(Khafid Mardiyansyah)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement