Mustafa (50) yang hidup sebagai nelayan di Dusun Kampung, Desa Tuapeijat yang juga berdekatan dengan pantai, sehari-hari hidupnya melaut dan tinggal di daerah bencana ini baginya sangat dibutuhkan kesiapsiagaan.
“Yang utama menyelamat diri dan lari ke bukit bersama-sama keluarga sambil mengajak saudara lain dengan tetangga untuk mengungsi ke bukit biar kita selamat kalau memang terjadi tsunami,” ucapnya.
Berbeda yang Yunda (28) ibu rumah tangga, dia tinggal hanya satu meter dari bibi pantai, jangankan gempa kalau pasang air laut tinggi rumahnya menjadi gempuran ombak, suaminya bekerja serabutan kadang buruh, kadang nelayan, kadang juga jadi tukang bangunan, hidup di zona merah yang rawan bencana baginya sudah menjadi sahabat.
“Kalau gempa datang kita keluar rumah sambil lihat situasi, kalau gempanya sudah kuat langsung lari ke atas bukit saja sama anak-anak,” katanya.

Sementara Muanas (42) seorang buruh pelabuhan Tuapeijat yang sehari-hari hidup dengan kapal-kapal yang berlabuh di pelabuhan ibukota Kabupaten Kepulauan Mentawai. Sudah acapkali dia merasakan gempa di tempat tinggalnya terutama pada saat dia sedang bongkar muat barang di pelabuhan. Pernah dulu terjadi gempa lupa dengan tahunnya yang dilakukan adalah melarikan diri ke atas bukit.
“Kita lari mencari tempat yang aman, ngak usah lihat-lihat kondisi air. Jarak dari pelabuhan ini ke bukit sekitar 200 meter itu bagus karena jalan besar jadi kita lari saja ke sana, kalau sudah tenang baru kembali,” ulasnya.
Kepala Dusun Kampung, Desa Tuapeijat, Jalaludin punya cara sendiri menyelamatkan diri ketika terjadi bencana gempa dan tsunami.
“Kita lari menyelamatkan diri dulu ke bukit tidak perlu menunggu aba-aba dari siapa pun apalagi sirine tsunami tidak usah ditunggu pokoknya kita langsung lari. Karena kalau kita tunggu aba-aba air laut akan terus datang,” katanya.