Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Mempertanyakan Akurasi dari Prediksi Gempa dan Tsunami di Pulau Jawa

Taufik Budi , Jurnalis-Sabtu, 27 Juli 2019 |15:04 WIB
Mempertanyakan Akurasi dari Prediksi Gempa dan Tsunami di Pulau Jawa
Foto: Shutterstock
A
A
A

Lebih lanjut dia menjelaskan, sistem permodelan menggunakan suatu software yang akan mengolah data-data masukan. Meski demikian, Thomas mengaku tak mengetahui pasti jenis data masukan dalam permodelan yang dilakukan oleh Widjo Kongko.

“Simulasi itu kita memasukkan data input yang ada di lapangan. Kita masukkan ke dalam software, setelah itu baru kita running. Saya enggak tahu apakah Pak Widjo Kongko itu input datanya apa saja, kita juga tidak mengikuti, dia tidak menyampaikan itu. Kemudian dia merunning keluar hasil,” jelasnya.

Thomas juga menyampaikan, selama ini belum ada studi lain yang menyebut akan terjadi gempa besar yang diikuti tsunami dahsyat di Pantai Selatan Jawa. Sebab, berdasarkan fenomena tsunami yang perah terjadi, gelombang laut tidak sampai mencapai ketinggian puluhan meter.

“Ini harusnya sebelum publish harus dikalibrasi dulu, betul enggak itu seperti itu. Karena kalau kita melihat fenomena tsunami dan segala macem di Pantai Selatan Jawa ini tidak sampai pada 50 meter, pengalaman kemarin, atau sejarahnya pun juga enggak ada yang seperti itu,” ucap dia.

Menurut dia, selama ini juga belum pernah ada kejadian tsunami sesuai prediksi permodelan atau simulasi. Selain kesulitan mendapatkan data pengamatan pergerakan lempeng bumi, kebanyakan studi justru mengolah data berdasarkan suatu peristiwa bencana seperti tsunami.

“Biasanya simulasi itu kan setelah kejadian tsunami. Selama ini kita belum pernah ada studi yang bisa melakukan model, lalu model itu di-running kemudian terjadi (tsunami sesuai prediksi). Itu belum pernah ada,” tukasnya.

“Jadi kalau biasanya model yang mereka jalankan itu pada saat setelah kejadian. Setelah tsunami terjadi itu melakukan simulasi tsunami. Karena apa? Karena tidak punya alat yang bisa memprediksi pergerakan lempeng itu jauh di bawah permukaan bumi, tidak ada alatnya,” imbuhnya.

“Dengan demikian akan susah, karena kita juga bener-bener enggak tahu, enggak bisa kita amati pergerakan lempeng itu setiap saat. Kecuali kalau kita bisa amati pergerakan lempeng, baru kita teliti akan terjadi pergerakan lempeng sehingga menghasilkan gempa sekian, tapi kan enggak pernah,” tegas dia.

(Khafid Mardiyansyah)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement