SEMARANG - Pariwisata Semarang semakin semarak. Pada Minggu 3 Agutus 2019, akan berlangsung parade budaya Cheng Ho Festival Semarang 2019 di Klenteng Agung Sam Poo Kong. Event ini tidak hanya mengangkat budaya Tionghoa, tapi juga budaya asil Jawa Tengah.
"Event ini jadi penegas betapa eksotisnya Semarang dengan beragam budaya yang ada di dalamnya. Jangan lupa, setiap tahun selalu ada nuansa baru yang ditawarkan,” ungkap Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya.
Gelaran Cheng Hot Festival dimulai dari Klenteng Tay Kak Sie di Gong Lombok. Dari situ, arak-arakannya mengarah ke Klenteng Sam Poo Kong di Jalan Simongan. Patung Laksamana Cheng Ho akan diarak selama parade berlangsung.
Arak-arakan ini mengadung filosopi alur pelayaran Laksamana Cheng Ho. Lantas kenapa alur pelayaran yang ditonjolkan? Apa sebenarnya keistimewaan alur pelayaran Cheng Ho?
Cheng Ho yang juga familiar sebagai Zheng He terkenal dengan kekuatan armada lautnya yang besar. Selain itu, Cheng Ho menjadi bagian dari sejarah penyebaran Islam di wilayah Semarang melalui figur juru kemudi kapal Ong Keng Hong. Dan Klenteng Sam Po Kong merupakan salah salah satu destinasi wisata religi di Kota Lumpia.
“Wisatawan bisa belajar banyak dari figur Laksamana Cheng Ho yang hebat. Selama pelayaran, Cheng Ho selalu menebarkan kebaikan. Mengajarkan kebersamaan dalam beragam latar belakang berbeda,” kata Menpar lagi.
Menghidupkan kembali memori, Laksamana Cheng Ho memulai ekspedisi pada 1405. Selama 28 tahun berlayar, Cheng Ho sudah tujuh kali melakukan ekspedisi internasional. Total sudah 37 negara yang sudah disambanginya. Zona ekspedisinya membentang dari Asia, Timur Tengah, hingga Afrika. Selama berada di nusantara, Cheng Ho mengenalkan teknologi dan menanamkan rasa persaudaraan yang kuat.
“Cheng Ho Festival Semarang ini sangat eksotis. Beragam seni budaya akan ditampilkan secara meriah. Jadi, pastikan evet besar ini tidak terlewatkan. Sebab, aksesibilitas menuju Semarang sagat mudah. Lalu amenitasnya juga sangat bagus di sana,” tutur Ketua Tim Pelaksana CoE Kemenpar Esthy Reko Astuti.
Deputi Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani juga seirama. Menurutnya, Festival Cheng Ho adalah salah satu upaya melestarikan budaya tradisional daerah. "Ajang ini memiliki brand value dan nilai jual untuk pengembangan pariwisata, seni dan budaya," tuturnya.
"Ajang ini sebagai salah satu akulturasi budaya Jawa dengan Tiongkok. Festival Cheng Ho menjadi momen yang pas untuk mengingatkan masyarakat akan pentingnya persatuan Indonesia," timpal Asdep Pengembangan I Regional II Adella Raung.
(Risna Nur Rahayu)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.