Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Bengkulu Jadi Alarm Bencana, Benarkah?

Demon Fajri , Jurnalis-Jum'at, 02 Agustus 2019 |05:47 WIB
Bengkulu Jadi Alarm Bencana, Benarkah?
Pemaparan Bengkulu sebagai Pusat Iklim Dunia (foto: Demon Fajri/Okezone)
A
A
A

BENGKULU - Provinsi berjuluk Bumi Rafflesia disebut sebagai pusat pengendali iklim dunia. Daerah dengan 10 kabupaten dan kota ini merupakan sumber penghasil pertama kali awan Cumulonimbus (cb).

Dari hasil sementara penelitian, awan hujan di Indonesia sebagian besar terbentuk di Bengkulu. Di mana awan tersebut bergerak menyebar ke seluruh Benua Maritim Indonesia (BMI) dan ke berbagai belahan dunia. Benarkan Bengkulu menjadi alarm bencana di Indonesia?

Baca Juga: 2.500 Bencana Diprediksi Landa Indonesia di 2019, Ini Strategi Pemerintah 

Pemaparan Bengkulu sebagai Pusat Iklim Dunia (foto: Demon Fajri/Okezone)

Pertumbuhan cyclon tropis terbentuk pertama kali di Bengkulu. Pertumbuhan tersebut berasal dari wilayah Samudera Hindia menuju ke daerah pegunungan di Bengkulu. setelah terbentuk, cyclon tropis akan menuju ke daerah lainnya.

Ketika cyclon tropis yang menyebabkan hujan deras dengan diiringi bencana alam, banjir daerah-daerah lainnya akan ikut merasakan bencana serupa. Seperti, pulau Jawa, Sulawesi, Kalimantan hingga Papua.

Fenomena tersebut membuat provinsi berjuluk Bumi Rafflesia sebagai salah satu daerah peringatan dini atau alarm bencana alam di Indonesia hingga negara-negara lainnya.

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Fatmawati Soekarno, Warjono mencontohkan, ketika curah hujan di Bengkulu diiringi dengan bencana alam banjir maka daerah di Pulau Jawa, Sulawesi, Kalimantan dan Papua akan mengalami hal serupa.

Misalnya, ketika banjir melanda Bengkulu pada akhir April 2019. Usai banjir di Bengkulu, daerah di Sulawesi dan Papua ikut banjir.

Tidak hanya di Indonesia, sampai Warjono, dari keterangan orang Jepang ketika Bengkulu sedang di landa hujan di Jepang akan terasa atau mengalami cuaca yang sangat dingin luar biasa.

Terkait fenomena tersebut, terang Warjono, sembilan negara telah melakukan penelitian di Bengkulu sejak 2015 hingga 2019. Warjono menyebut, pada September 2019, peneliti asal Australia akan meneliti ke Bengkulu. Penelitian itu akan dilakukan di daerah laut Bengkulu.

Baca Juga: Indonesia Jadi Percontohan Dunia dalam Pembangunan Sistem Peringatan Dini Multi-Bencana 

Hasil sementara penelitian sembilan negara, kata Warjono, belum diketahui banyak masyarakat di Indonesia. Terlepas dari hal tersebut, pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi sangat penting mengambil kebijakan stategis.

''Bengkulu menjadi salah satu alarm bencana banjir di Indonesia. Ketika musim penghujan di Bengkulu, maka di Jepang akan merasakan cuaca sangat dingin yang luar biasa,'' kata Warjono, Sabtu 27 Juli 2019.

(Fiddy Anggriawan )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement