"Masing-masing orang memegang dua bambu yang berlainan nada, yaitu nada satu dan nada dua, yang lain nada tiga tinggi dan nada tiga rendah. Bambu Hitada dilengkapi pula oleh instrumen juk, suling serta para penyanyi sehingga menghasilkan sebuah nyanyian yang enak di dengar,"ujar Benny kepada awak media.
Dia menambahkan, musik Bambu Tada dikenal di Pulau Morotai dan hingga kini masih bertahan di hampir setiap desa. "Selain sebagai hiburan masyarakat, musik tradisional khas Morotai ini merupakan salah satu bentuk kebersamaan warga, mulai dari anak-anak, remaja, dan dewasa, baik pria maupun wanita," tandasnya.
Tarian kolosal dan musik tradisional Bambu Tada oleh 2.196 orang yang berhasil memikat ribuan wisatawan tersebut, tidak lepas dari sentuhan koreografer kondang Eko Supriyanto alias Eko Pece. Dia adalah orang yang di balik sukses opening Asian Games 2018. Eko Pece juga sosok dibalik layar kesuksesan Festival Teluk Jailolo 2019.
Sekadar diketahui, musik bambu tada berasal dari kebiasaan masyarakat terdahulu yang lebih banyak hidup dengan alam serta menggabungkan beberapa bahan yang mereka dapatkan dari alam.
Alat musik yang digunakan biasanya terdiri dari ruas bambu, cikir, biola, dan juk. Ruas bambu ini merupakan salah satu peralatan utama yang memiliki panjang yang berbeda dan setiap batang bambu dilubangi sesuai dengan panjang bambu. Ini dimaksud untuk menghasilkan nada yang berbeda.
(Fahmi Firdaus )