Mengenal Destinasi Klipoh, Kawasan Pengrajin Gerabah di Dekat Borobudur

Jum'at 09 Agustus 2019 17:39 WIB
https: img.okezone.com content 2019 08 09 1 2089949 mengenal-destinasi-klipoh-kawasan-pengrajin-gerabah-di-dekat-borobudur-94rlBxOkyR.jpg Foto: dok.Humas Kemenpar

MAGELANG - Apa sih yang menjadi top of mind Anda saat mendengar kata Borobudur? Candi Budha terbesar dunia yang sudah diakui UNESCO sebagai World Cultural Heritage? Pernah terpikir sisi lain di luar itu? Kalau belum, cobalah simak story telling yang sedang disiapkan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) bersama Universitas Gajah Mada (UGM).

Paket wisatanya sudah disiapkan, uji produknya juga sudah dilakukan. Sejak 7 Agustus hingga 10 Agustus 2019, semua sisi-sisi menarik di sekitaran Borobudur disisir habis. Semua dipantau dan dianalisa oleh petugas Bimtek Penguatan Story Telling Pada Paket Wisata di Kawasan Candi Borobudur.

Salah satu yang dianalisis adalah destinasi Klipoh, Karanganyar. Lokasinya sekitar 3.5 km dari Borobudur. Tinggal naik andong, Anda bisa langsung menuju ke Klipoh dengan sensasi berbeda.

"Kusirnya mengenakan pakaian Jawa dan sepanjang jalan wisatawan bisa berinteraksi dengan kusir sambil ditemani hamparan sawah yang keren," tutur Asisten Deputi Pengembangan Wisata Budaya Kemenpar Oneng Setya Harini, Jumat (9/8/2019).

Lantas apa yang menjadikan Desa Klipoh istimewa sehingga wajib dimasukkan ke dalam daftar tempat yang harus dikunjungi saat pergi ke Borobudur? Jawabannya, Klipoh memiliki potensi khusus yang tidak dimiliki oleh daerah-daerah lain di sekitar Borobudur, yaitu menjadi pusat perkembangan kerajinan gerabah.

"Bila ingin merasakan sensasi membuat gerabah seperti aktris Demi Moore di Film "Ghost" datanglah ke Karanganyar," terang koordinator UGM M. Sidiq Wicaksono.

Karanganyar memang menjadi sentra pembuatan kerajinan gerabah. Dari mulai penggorengan, teko, mangkok, asbak, piring, semuanya ada.

Supoyo, salah seorang perajin gerabah menuturkan cerita kerajinan gerabah berkembang di daerah Karanganyar sudah sejak lama. Bahkan Karanganyar menjadi satu-satunya tempat di sekitar Borobudur yang mengedepankan kerajinan gerabah ketika daerah lain di sekitarnya cenderung meningkatkan hasil di bidang pertanian.

"Saat Juni, Juli, Agustus, yang ke Karanganyar didominasi turis asing. Sehari bisa sampai 100 turis asing. Ada turis Australia yang sampai empat kali datang ke sini karena dia tak menemukan pengalaman membuat gerabah di Australia," ujar Supoyo.

Cerita pembuatan gerabahnya juga menarik untuk disimak. Dari penuturan Supoyo, keberadaan gerabah sudah ada sejak berabad-abad silam. Asal muasalnya disebut satu periode dengan dibangunnya Candi Borobudur.

Cerita versi rakyatnya pun ada. Kisahnya tak kalah dari legenda ular putih di China. Berdasarkan penuturan Supoyo, munculnya Desa Klipoh di Karanganyar tak bisa dipisahkan dari Nyai Kalipah. Nyai Kalipah adalah orang pertama yang menempati wilayah Klipoh. Tidak ada yang tahu secara pasti dari mana ia berasal, tetapi Kalipah tinggal di barat dusun di tepi sungai. Konon katanya, Nyai Kalipah menjadi orang pertama yang mengembangkan kerajinan gerabah di sana.

Nah, cerita rakyat di atas merupakan bagian dari paket wisata ke Boroboudur. Dengan begitu diharapkapkan wisatawan akan lebih lama di sekitar destinasi ini. "Kami akan rangkai semuanya menjadi paket wisata yang menarik. Length of stay wisatawan bisa tambah panjang. Spendingnya juga makin besar. Yang lebih penting lagi, jadi selain Borobudur, kawasan penyangganya juga ikut hidup," timpal Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Sejarah, Religi, Tradisi dan Seni Budaya Kemenpar, Tendi Nuralam.

Dengan konsep people to people, wisata di sekitaran Borobudur diyakini bisa berkembang. Ada experience baru yang didapatkan wisatawan. Ada juga kenangan manis yang dibawa pulang ke negara asalnya. "Goal-nya penjualan paket baru. Arahnya ke interaksi antarmanusia. Nanti wisatawan kami ajak membuat gerabah bersama penduduk, mendengarkan cerita asal muasal grabah, dan semua bakal disajikan dengan template yang sudah dibuatkan standarnya," tambah Tendi.

Realita ini membuat Menpar Arief Yahya makin bersemangat mengembangkan wisata di sekitaran Borobudur. Dia menilai, Borobudur yang sudah masuk ke dalam destinasi super ekstra prioritas itu sudah punya modal dasar yang sangat bagus.

“Wisatawan zaman now tidak hanya sekedar berkunjung ke destinasi, tapi juga terlibat menjaga lingkungan, budaya, juga berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Travel, enjoy, respect,” jelasnya.

(abp)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini