Mahfud menambahkan, saat ini sudah banyak muncul pesantren yang dulunya tidak ada, tiba-tiba ada dan banyak pengikutnya. Corak pesantren ini terbilang eksklusif, tidak semua orang bisa masuk ke dalamnya.
"Itu kemudian sangat ekskusif orang tidak boleh masuk, tidak boleh orang hormat bendera," ungkapnya.
Untuk mengantisipasi gerakan radikal di Indonesia, GSK membuat berbagai skenario melalui diskusi bersama tokoh bangsa hari ini. Hadir pula tokoh ormas Islam terbesar di Indonesia, yakni Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU).
Muhammadiyah diwakili Ketum Haedar Nashir dan NU diwakili KH Sholahudin Wahid atau Gus Sholah yang merupakan pengasuh Ponpes Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.