nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ribuan Guru Protes demi Demokrasi Hong Kong

Rachmat Fahzry, Jurnalis · Sabtu 17 Agustus 2019 17:45 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 08 17 18 2093267 ribuan-guru-protes-demi-demokrasi-hong-kong-GCXvoSgtQM.jpg Ribuan guru protes untuk demokrasi Hong Kong. Foto/Reuters

HONG KONG - Ribuan Beberapa ribu guru melalukan protes menuntut hal sebelumnya telah dilakukan massa pro-demokrasi Hong Kong agar kota tersebut bisa menjalankan sistem demokrasi yang bebas dari pemerintah pusat China.

Demonstran mengatakan mereka memerangi pengikisan prinsip "satu negara, dua sistem" yang menjadi syarat penyerahan Hong Kong ke China oleh Inggris pada 1997.

Yu, yang berusia 40-an dan seorang guru musik di sekolah menengah setempat, mengatakan bahwa dia bertekad untuk menunjukkan dukungan kepada siswa yang melakukan protes, meskipun dia tidak setuju dengan semua tindakan mereka.

"Saya menghargai keberanian dan kepedulian mereka terhadap Hong Kong ... mereka jelas lebih berani daripada pemerintah kita," katanya mengutip Reuters, Sabtu (17/8/2019).

Foto/Reuters

Baca juga: China Tidak Akan Duduk Manis jika Situasi Hong Kong Memburuk

Baca juga: China Sebut Aksi Pedemo di Bandara Hong Kong seperti Teroris

Demonstrasi guru, yang diperkirakan oleh organisator mencapai 22.000 orang, sedangkan polisi mengatakan 8.300 diberikan izin untuk melakukan demo oleh polisi.

Setelah berkumpul dengan damai di kawasan pusat bisnis, mereka berbaris di gedung Pemerintah Hong Kong pimpinan Carrie Lam, sambil meneriakkan "Polisi Hong Kong tahu hukum, mereka melanggar hukum".

"Jika Carrie menanggapi tuntutan kami dari awal, tidak ada yang akan terluka," kata Lee, seorang pensiunan guru sekolah dasar.

Foto/Reuters

Para demonstran anti-pemerintah juga diperkirakan menuju distrik Kowloon yang ramai dengan para pedagang dan wisatawan dari China daratan.

Front Hak Asasi Manusia Sipil pro-demokrasi, yang mengorganisir protes damai sejuta orang pada Juni, telah menjadwalkan protes lain pada Minggu (18/9).

"Kita semua merasa ketegangan sedang meningkat dan tingkat stres meningkat," kata seorang pemrotes, Pun (22), kepada Reuters saat duduk di bandara internasional awal pekan ini.

“Saya tahu kekerasan tidak bisa melawan kekerasan, tetapi terkadang agresi diperlukan untuk menarik perhatian pemerintah dan orang lain,” katanya. “Saya telah melempar batu ... Saya juga dipukuli oleh polisi dengan pentungan. Kita semua perlahan mulai terbiasa dengan hal ini."

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini