Lebih jauh, ia mengatakan, apabila masyarakat Papua marah pasti ada sebabnya. Seperti kericuhan kemarin lantaran mereka merasa tak terima mahasiswa Papua di Surabaya mendapatkan tindakan rasisme dan kekerasan.
“Kalau mau padam asap maka api yang harus padam terdahulu baru asap. Kalau sepanjang diurus asap apinya dibiarkan, ini tetap juga seperti begini. Ini kan ada gerakan besar,” kata dia.
Baca Juga : AJI Kritik Kebijakan Perlambatan Akses Internet di Papua
“Kalau tidak ada konsolidasi yang besar kan tidak mungkinlah. Masa orang bicara monyet di Surabaya langsung di beberapa kota terjadi kebakaran. Jadi jangan kita sibuk untuk mengurus permukaan ya, asap, sibuk siram asap, tapi apinya tidak diurus,” tuturnya.