nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Pilu Izam, Bocah Tulang Rapuh Asal Sukoharjo

Bramantyo, Jurnalis · Jum'at 23 Agustus 2019 01:30 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 08 23 512 2095509 kisah-pilu-izam-bocah-tulang-rapuh-asal-sukoharjo-f8OFzgGnrw.png Abrizal Hamam Zulfar atau Izam terbaring lemah di kasur (Bramantyo/Okezone)

SUKOHARJO - Abrizal Hamam Zulfar (5) terbaring lemah di kasur. Tangan mungilnya sesekali memegang mainan robot dan memberikannya ke sang ayah Maryono yang setia menemaninya. Ia mengajak ayahnya terlibat bermain, karena dirinya tak kuat lama-lama menguat atik mainan.

Begitulah keseharian Izam, panggilan akrab bocah yang tinggal di Dusun Badongan, RT 01 RW 01, Desa Sanggrahan, Kecamatan Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah ini.

Buah hati dari pasangan Maryono-Anita Agustina tersebut tak bisa seceria bocah lain seusianya karena mengidap penyakit tulang rapuh. Izam sangat ingin berjalan dan bermain di luar rumah, tapi apa daya kedua tak kuat menahan beban tubuhnya.

Maryono yang bekerja sebagai buruh bangunan berupaya tegar melihat kondisi anaknya. Menurutnya, kondisi putranya sudah terdeteksi mengalami kelainan pada kedua kakinya sewaktu masih dalam kandungan.

"Sewaktu di USG, kaki anak saya si Izam ini sudah terlihat bengkok. Tapi bengkoknya kenapa, belum tahu," kata Maryono, Kamis (22/8/2019).Tulang Rapuh

Namun, saat lahir kaki Izam terlihat normal seperti bayi pada umumnya. Beranjak tiga bulan usianya, mulailah terlihat tanda-tanda. Izam sering mengalami sakit di bagian kaki dan kerap menangis.

"Izam menangis karena kakinya sakit. Saat diperiksa itulah baru ketahuan kalau Izam menderita tulang rapuh," ujar Maryono.

Maryono sampai menangis melihat putranya yang masih berusia tiga bulan terpaksa dipasang gips di kakinya. Izam pun sering menangis kesakitan terutama saat malam.

"Kaki anak ini dua-duanya patah dan terpaksa di gips. Hampir tiap malam Izam selalu menangis. Mau miring ke kiri dan ke kanan tidak bisa dan pasti nangis," tuturnya.

Penderitaan Maryono semakin lengkap karena kesulitan biaya untuk mengobati Izam. Dia sebenarnya memiliki kartu BPJS Kesehatan. Celakanya, asuransi diberikan pemerintah itu tak menanggung biaya perawatan penyakit diderita putranya.

"Saya punya BPJS. Tapi BPJS yang saya miliki tak bisa mengcover biaya anak saya. Karena tidak ada di dalam daftar tanggungan BPJS. Kecuali operasi mungkin ditanggung,"terangnya.

Maryono juga belum bisa menggunakan BPJS karena masih memiliki tunggakan sebesar Rp840 ribu.

Namun, Pemkab Sukoharjo sudah bersedia mengalihkan BPJS Kesehatan milik Maryono ke Kartu Indonesia Sehat (KIS), sehingga dia bisa membawa Izam ke rumah sakit saat dia mengeluh nyeri.

Maryono sudah membawa Izam ke dokter. Izam divonis mengalami penyakit keturunan. Doktor menyarankan agar Izam dioperasi. Estimasi biaya Rp100 juta lebih. Nilai yang cukup sulit dipenuhi Maryono dengan pendapatan yang tak menentu sebagai tukang bangunan.

"Uang dari mana? Ini saja untungnya dari Pemkab Sukoharjo telah memfasilitasi saya mengalihkan BPJS ke KIS. Jadi, sewaktu-waktu Izam mengalami nyeri, saya bisa membawa Izam ke rumah sakit," ujarnya sembari berharap ada dermawan yang bersedia membantu pengobatan putranya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini