Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Gara-Gara Napoleon, Portugal Pindahkan Ibu Kotanya Ke Benua Lain

Rahman Asmardika , Jurnalis-Selasa, 27 Agustus 2019 |08:01 WIB
Gara-Gara Napoleon, Portugal Pindahkan Ibu Kotanya Ke Benua Lain
Foto: AFP.
A
A
A

IBU KOTA memiliki arti penting bagi setiap negara di dunia, ada yang melihatnya sebagai simbol persatuan, sebagai pusat aktivitas pemerintahan atau pusat perekonomian. Namun, terkadang karena berbagai alasan, sebuah negara akan memindahkan ibu kotanya ke lokasi yang baru, seperti yang telah diumumkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Tidak hanya Indonesia, sepanjang sejarah, banyak negara yang telah melakukan pemindahan ibu kota, termasuk negara tetangga Malaysia, Myanmar dan Nigeria. Terkadang lokasi ibu kota baru masih berada di satu wilayah dengan yang lama, terkadang, seperti Indonesia, ibu kota dipindahkan ke pulau yang berbeda. Namun, sebuah negara di Eropa ternyata pernah memindahkan ibu kotanya hingga ke benua yang berbeda. Negara itu adalah Portugal.

Selama 13 tahun, dari 1808 sampai 1821, ibu kota Portugal bukanlah Lisbon, melainkan Rio de Janeiro, salah satu kota terbesar dan paling ikonik di Brasil, negara yang berada di Amerika Selatan. Pemindahan ibu kota Portugal itu dilakukan karena ulah Napoleon, pemimpin dan panglima perang kenamaan Prancis.

Pada abad ke-17, Portugal adalah sebuah kerajaan besar dengan wilayah jajahan di berbagai penjuru dunia, salah satunya adalah Brasil. Pada masa itu, Rio de Janeiro yang letaknya strategis tumbuh dengan pesat menjadi sebuah kota pelabuhan besar, dan pada 1763 dijadikan ibu kota Negara Bagian Brasil, menggantikan Salvador.

Rio de Janeiro saat ini. (Foto: AFP)

Berkembangnya Brasil tentu merupakan hal yang baik untuk Portugal sebagai negara kolonialnya, tetapi di Eropa situasi memperlihatkan tanda-tanda yang kurang baik bagi Portugal.

Pada Oktober 1807, pasukan Napoleon Bonaparte bergerak menuju barat melintasi Eropa. Saat itu Spanyol setuju untuk menandatangani perjanjian rahasia dengan Prancis, di mana mereka berencana untuk memecah Portugal dan secara bersamaan menginvasi negara itu.

Karena kesepakatan aliansi, Kerajaan Inggris Raya dan Irlandia datang membantu Kerajaan Portugal dan menyatakan perang terhadap Prancis dan Spanyol, Konflik besar tersebut kemudian dikenal sebagai Perang Semenanjung.

Menyadari bahwa invasi tak terhindarkan, Keluarga Kerajaan Portugal meloloskan diri dari Ibu Kota Lisbon hanya beberapa hari sebelum kota itu dikepung. Mereka melakukan perjalanan melintasi Atlantik ke Brasil untuk mencari tempat pengungsian, di bawah perlindungan Angkatan Laut Kerajaan Inggris.

Setelah berlabuh di Brasil, Pangeran John VI, yang saat itu menjabat sebagai penguasa sementara Portugal, menandatangani undang-undang baru yang membuka rute perdagangan antara "negara-negara sahabat" khususnya dengan Inggris Raya. Undang-undang itu sekaligus menghapus perjanjian sebelumnya bahwa Brasil hanya akan berdagang langsung dengan Portugal.

Pada musim semi 1808, Pangeran John dan Keluarga Kerajaan Portugal tiba di Rio de Janeiro, dan pada Desember, dia mendeklarasikan pembentukan Kerajaan Portugal, Brasil, dan Algarves. Keputusan itu meningkatkan status, pangkat dan kemandirian administratif Brasil, sebuah fondasi yang sangat besar untuk mendapatkan kemerdekaannya di masa depan.

Pada 1816, setelah Ratu Maria I meninggal dunia, Pangeran John menjadi raja Portugal.

Raja John VI dari Kerajaan Portugal, Brasil dan Algarves.

Dengan semua keluarga kerajaan berada di sana, Rio de Janeiro menjadi ibu kota Kerajaan Portugal dan mereka terus tinggal di Rio de Janeiro sampai kekalahan Napoleon pada 1814. Namun, baru pada 1821, keluarga kerajaan Portugal meninggalkan Rio de Janeiro dan kembali ke Lisbon.

Pada saat itu, dengan arus migrasi dari Portugal, populasi di Rio de Janeiro telah berkembang dengan pesat dan kota itu berkembang menjadi salah satu ibu kota ekonomi di wilayah Amerika Selatan.

Rio de Janeiro tetap menjadi ibu kota sampai tahun 1822, total 13 tahun, tetapi setelah melayani tidak hanya perlindungan bagi Keluarga Kerajaan, tetapi juga ibu kota kerajaan, Rio de Janeiro menolak tuntutan parlemen Portugal, atau yang disebut dengan Cortes, untuk kembali ke status koloni sekali lagi. Penolakan itu kemudian mengarah pada merdekanya Kerajaan Brasil dari Kerajaan Portugal.

Meski relatif singkat, kedatangan keluarga Kerajaan Portugal dan dijadikannya Rio de Janeiro sebagai ibu kota kerajaan itu telah memberi dorongan besar bagi perkembangan ekonomi Brasil dan proses negara itu menuju kemerdekaannya.

(Rahman Asmardika)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement