Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kementan Dorong Penggunaan Bakteri Antagonis untuk Kendalikan Serangan OPT

Kementan Dorong Penggunaan Bakteri Antagonis untuk Kendalikan Serangan OPT
Pertanian beras organik. Foto: dok.Kementan
A
A
A

KARAWANG - Ekspor beras organik dari tahun ke tahun meningkat, hal ini dibuktikan dengan kebijakan Kementan yang telah menerbitkan rekomendasi ekspor 143 ton beras organik pada 2019 ini, dan hingga Juni 2019 terealisasi 252 ton. Lebih lanjut perlu diketahui, ekspor beras organik berhasil masuk ke beberapa negara, seperti Jepang, Hongkong, Jerman, Francis, Malaysia, Amerika Serikat, dan Singapura dari beberapa perusahaan seperti CV Shinta Rama, PT Bloom Agro, PT Bumi Subur Sejahtera Lestari dan PT Sejahtera Makmur Semesta.

Kepala Bidang Pelayanan Teknis Informasi dan Dokumentasi, Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian (Kementan), Suwarman mengatakan, beras yang diekspor merupakan beras yang sesuai standar pasar luar negeri.

Nah, untuk menghasilkan beras yang berstandar internasional, petani mesti menerapkan teknologi pengendali OPT pada proses pertanian.. “Penerapan teknologi pengendalian OPT pada pertanian organik dengan tindakan pencegahan yang sesuai dengan prinsip budidaya organik,” ujar Suwarman di Jatisari, Karawang, Senin (2/9/2019).

Suwarman menjelaskan paenibacillus polymyxa merupakan bakteri antagonis yang cukup efektif untuk menekan serangan OPT, seperti blas dan hawar daun bakteri pada pertanaman padi. Di alam juga banyak terdapat mikroorganisme yang bisa dimanfaatkan untuk mengendalikan OPT, baik itu yang bersifat antagonis maupun entomopatogen .

“Hal ini selaras dengan pesan Bapak Dirjen Tanaman Pangan, Suwandi pada saat kunjungan kerja di Balai Besar Peramalan OPT, bahwa setiap penyakit dan hama pasti ada obatnya di sekitarnya, yaitu secara alami,” sebutnya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement