Cara ini sendiri dilakukan oleh Sultan Agung untuk menyatukan sistem penanggalan masyarakat kejawen saat itu dan santri umat Islam. Dimana masyarakat kejawen menggunakan kalender Saka, sedangkan kaum santri menggunakan kalender Hijriah.
Adapun secara perhitungan kalender hijriah sama dengan Jawa kendati begitu tidak melihat hilal meski tahunnya sendiri memakai tahun Saka. Walaupun tahun Sakanya sama tetap saja awal tahun berbeda dengan kalender Saka yang masih dipake umat Hindu. Karena tahun baru Saka setelah nyepi, sementara tahun baru Jawa bersamaan dengan tahun baru Islam.
Atas dasar itu pula kenamaan pada hari Jawa juga mengikuti nama bilangan Islam seperti Ahad (ngahad), Itsnayn (senen), Tsalaatsa’ (seloso), Arbaa-a (rebo), Khamsah (kemis), Jumu’ah (jemuah), Sabt (setu). Hanya saja sebutan Ahad berubah saat penjajah Portugis masuk Nusantara, lalu mengganti nama ahad menjadi domingo (hari mereka beribadah pada Tuhan). Nama itu perlahan ucapannya berubah menjadi Minggu.
(Khafid Mardiyansyah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.