Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Romansa Soekarno-Fatmawati, dari Pengasingan Turun ke Hati

Demon Fajri , Jurnalis-Kamis, 05 September 2019 |07:08 WIB
Romansa Soekarno-Fatmawati, dari Pengasingan Turun ke Hati
Lukisan Fatmawati (Foto: Okezone.com/Demon)
A
A
A

Kesetiaan dan ketangguhan sosok Fatmawati dalam perjuangan membela dan meningkatkan derajat wanita pun tak lepas ketika dia menjadi Ibu Negara RI. Menghadiri detik-detik proklamasi 17 Agustus 1945, bersama-sama dengan nyonya S.K Trimurti sebagai unsur wanita.

Fatmawati juga selalu menjadi penasehat dan pelindung setiap organisasi wanita. Mulai dari Kowani, Kowari dan Persit. Bahkan, dia sebagai perempuan yang konsekwen dan konsisten dalam membela hak-hak wanita.

Hal tersebut terlihat dan tercermin dalam sikap-nya antipoligami. Di mana pada masa orde baru sikap ini dapat melindungi para istri pegawai negeri dengan lahirnya PP. 10. Almarhumah juga gigih memperjuangkan berdirinya gedung wanita pertama di Indonesia, yang terletak di jalan Diponegoro, Jakarta.

''Peran almarhumah sangat menonjol dalam upaya membantu meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pendidikan, kesehatan anak terlantar, penyandang cacat sehingga almarhumah memprakarsai pendirian perguruan cikini, yayasan penderita anak cacat (YPAC), pendiri yayasan rumah sakit ''Fatmawati'','' jelas Marwan.

Peran sosok perempuan kelahiran provinsi berjuluk ''Bumi Rafflesia'' juga andil dalam memperjuangkan agar dokumen, barang dan arsip pemerintah RI yang dirampas Belanda, kisaran tahun 1945 hingga 1950 di Jakarta dan di Yogyakarta, dapat dikembalikan ke Indonesia.

Perempuan yang juga sempat menjabat sebagai pelindung/penasehat Nasional Woman's Internasional Club (WICC) ini turut aktif dalam dalam rangka pemberantasan buka aksara, serta sebagai sponsor berdirinya organisasi ''sekato'' di Jakarta.

Bahkan, anak dari tokoh Muhammadiyah ini mengunjungi dan memberikan santunan kepada panti asuhan pada bulan puasa dan pada perayaan hari ibu. Tradisi ini pun hingga saat ini masih tetap berlanjut.

Sebagai Ibu Negara almarhumah, selalu memperkenalkan wajah Indonesia beserta budaya-nya kepada negara-negara sahabat. Caranya, menampilkan hal-hal yang merupakan ciri khas budaya Indonesia. Seperti, makanan, tarian dan penataan ruangan pada saat diadakan jamuan kenegaraan.

Putri teladan dari Bengkulu ini semasa remaja-nya dihabiskan di Bengkulu dalam suasana perjuangan perintis kemerdekaan. Dia pindah ke Jakarta dalam revolusi fisik.

Di mana sosok Fatmawati, sebagai perempuan yang teguh iman-nya dan orang yang penyabar dalam menghadapi segala cobaan serta mempunyai prinsip dengan pengabdian yang tulus kepada suami.

''Almarhumah wafat pada 14 mei 1980, di Kuala Lumpur, Malaysia. Jenazahnya dimakamkan di perkuburan Karet Jakarta. Pemerintah RI menganugerahkan Bintang Maha Putra Adi Pradana pada tanggal 10 November 1995,'' jelas Marwan.

(Khafid Mardiyansyah)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement