KABUL – Pembicaraan damai antara kelompok Taliban di Afghanistan dengan Amerika Serikat (AS) telah berakhir setelah Presiden Donald Trump secara sepihak membatalkan perundingan rahasia yang rencananya digelar pada Minggu, 8 September. Taliban memperingatkan bahwa pembatalan tersebut akan membuat lebih banyak warga AS yang kehilangan nyawanya di Afghanistan.
Pembicaraan yang semula akan digelar di kamp presiden di Kamp David, Maryland itu dibatalkan setelah Taliban mengklaim bertanggungjawab atas serangan bom yang menewaskan seorang tentara AS dan 11 orang lainnya.
BACA JUGA: AS dan Taliban Lanjutkan Perundingan untuk Akhiri Perang Terlama Amerika
Juru Bicara Taliban, Zabihullah Mujahid mengkritik keputusan Trump untuk membatalkan dialog tersebut. Dia mengatakan bahwa tentara AS juga tengah melakukan serangan ke Afghanistan pada saat yang bersamaan.
"Ini akan menyebabkan lebih banyak kerugian bagi AS," katanya sebagaimana dilansir Reuters, Senin (9/9/2019). "Kredibilitasnya akan terpengaruh, sikap anti-perdamaiannya akan terekspos ke dunia, kehilangan nyawa dan aset akan meningkat."
Di Washington, Menteri Luar Negeri Mike Pompeo mengatakan bahwa pembicaraan damai Afghanistan sedang dihentikan dan Washington tidak akan mengurangi dukungan militer AS untuk pasukan Afghanistan sampai yakin bahwa Taliban dapat menindaklanjuti komitmen yang signifikan.
Amerika Serikat telah memanggil utusan khususnya untuk Afghanistan, Zalmay Khalilzad untuk memetakan langkah yang akan diambil di masa depan. Dalam wawancara di acara "Fox News Sunday" Pompeo mengatakan bahwa saat ini pembicaraan damai dengan Taliban “untuk saat iuni sudah mati”.
BACA JUGA: Capai Kesepakatan dengan Taliban, AS Akan Tarik 5.400 Pasukannya dari Afghanistan
Trump telah lama ingin mengakhiri keterlibatan AS di Afghanistan bahkan sejak masa pencalonannya. Diplomat AS telah berbicara dengan perwakilan Taliban selama berbulan-bulan tentang rencana untuk menarik ribuan pasukan AS sebagai imbalan jaminan keamanan oleh Taliban.
Pekan lalu, AS dan Taliban telah menyepakati rancangan perjanjian damai yang dapat berujung pada penarikan pasukan AS dari perang terlama yang pernah mereka jalani itu. Saat ini terdapat 14.000 pasukan AS dan juga ribuan pasukan NATO lainnya di negara itu, 18 tahun setelah invasi oleh koalisi yang dipimpin AS serangan 11 September 2001 yang dilakukan al Qaeda ke AS.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.