nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

China Dituding Jadi Dalang Serangan Siber ke Parlemen Australia

Rachmat Fahzry, Jurnalis · Senin 16 September 2019 14:46 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 09 16 18 2105422 china-dituding-jadi-dalang-serangan-siber-ke-parlemen-australia-sPKO51aMTC.jpg Replika bendera China dan Australia. (Foto/Reuters)

SYDNEY – China dituding menjadi dalang dalam serangan siber yang menargetkan parlemen Australia dan tiga partai politik terbesar negara itu sebelum pemilihan umum pada bulan Mei 2019.

Malansir Reuters, Senin (16/9/2019) Badan intelijen siber Australia—Direktorat Sinyal Australia (ASD)—menyimpulkan pada bulan Maret bahwa Kementerian Keamanan Negara China bertanggung jawab atas serangan siber. Lima orang yang memiliki pengetahuan langsung tentang temuan-temuan investigasi tersebut mengatakan kepada Reuters.

Kelima sumber menolak untuk diidentifikasi karena sensitivitas masalah ini. Reuters belum meninjau laporan rahasia.

Laporan itu, yang juga termasuk masukan dari Departemen Luar Negeri Australia, merekomendasikan untuk menjaga kerahasiaan temuan agar tidak mengganggu hubungan perdagangan dengan China.

Pemerintah Australia belum mengungkapkan siapa yang diyakini berada di balik serangan itu.

Foto/Shutter Stock

Kantor Perdana Menteri Australia Scott Morrison menolak untuk mengomentari serangan itu, temuan laporan atau apakah Australia secara pribadi telah mengangkat peretasan dengan China. ASD juga menolak berkomentar.

Kementerian Luar Negeri China membantah terlibat dalam segala jenis serangan peretasan dan mengatakan internet penuh dengan teori yang sulit dilacak.

“Ketika menyelidiki dan menentukan sifat insiden online harus ada bukti lengkap dari fakta, jika tidak, itu hanya menciptakan rumor dan hanya menuduh orang lain, menempelkan label buruk pada orang-orang tanpa pandang bulu. Kami ingin menekankan bahwa China juga menjadi korban serangan internet,” kata Kementerian itu dalam sebuah pernyataan yang dikirim ke Reuters.

"China berharap Australia dapat bertemu agar dapat saling percaya dan meningkatkan kerja sama antara kedua negara."

China adalah mitra dagang terbesar Australia, mendominasi pembelian bijih besi, batubara, dan barang-barang pertanian Australia, membeli lebih dari sepertiga dari total ekspor negara itu dan mengirimkan lebih dari satu juta wisatawan dan pelajar ke sana setiap tahun.

Seorang sumber mengatakan bahwa otoritas Australia merasa ada prospek yang sangat nyata untuk merusak ekonomi dengan China.

Australia pada Februari lalu mengungkapkan para peretas telah melanggar jaringan parlemen nasional Australia. PM Morrison mengatakan pada saat itu bahwa serangan itu "canggih" dan mungkin dilakukan oleh pemerintah asing. Dia tidak menyebutkan nama pemerintah yang dicurigai terlibat.

Ketika peretasan ditemukan, anggota parlemen Australia dan stafnya diberitahu oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden Senat untuk segera mengubah kata sandi mereka, menurut pernyataan parlemen pada saat itu.

Investigasi ASD dengan cepat menetapkan bahwa para peretas juga telah mengakses jaringan partai Liberal yang berkuasa, mitra koalisinya Nationals yang berbasis di pedesaan, dan partai Buruh oposisi, dua sumber mengatakan.

Partai Buruh tidak menanggapi permintaan komentar. Satu orang yang dekat dengan partai mengatakan bahwa mereka diberitahu tentang temuan tersebut, tanpa memberikan rincian.

Serangan terhadap partai-partai politik memberi para pelaku akses ke makalah kebijakan tentang topik-topik seperti pajak dan kebijakan luar negeri, dan korespondensi email pribadi antara anggota parlemen, staf anggota parlemen dan warga negara lainnya.

Anggota independen parlemen dan partai politik lainnya tidak terpengaruh.

Menurut dua sumber, Penyelidik Australia menemukan penyerang menggunakan kode dan teknik yang diketahui telah digunakan oleh China di masa lalu,.

Intelijen Australia juga menentukan bahwa partai-partai politik di negara itu adalah target mata-mata China, tambah mereka, tanpa menyebutkan insiden lainnya.

Para penyerang menggunakan teknik-teknik canggih untuk mencoba menyembunyikan akses dan identitas mereka, kata salah satu orang, tanpa memberikan perincian.

Temuan itu juga dibagikan dengan setidaknya dua sekutu Australia yakni Amerika Serikat dan Inggris.

Inggris mengirim tim ke Australia untuk membantu menyelidiki serangan itu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini