nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Presiden Venezuela Yakin Donald Trump Benci Orang Amerika Latin

Rachmat Fahzry, Jurnalis · Jum'at 20 September 2019 14:41 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 09 20 18 2107265 presiden-venezuela-yakin-donald-trump-benci-orang-amerika-latin-W5ZJslIbfC.jpg Presiden AS Donald Trump. (Foto/Reuters)

MOSCOW – Presiden Venezuela Nicolas Maduro meyakini bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membenci semua orang Amerika Latin, terutama rakyat Venezuela dan sejarah negara itu.

"Saya secara terbuka mengatakan ini di sini, di acara terkenal Anda. Donald Trump memiliki obsesi dan kebencian terhadap orang-orang Amerika Latin secara umum. Bagi para pengungsi, imigran, tetapi terutama dia membenci rakyat Venezuela dan sejarahnya," tutur Maduro mengatakan kepada mantan Presiden Ekuador Raphael Correa dalam sebuah acara program televisi mengutip Sputnik, Jumat (20/9/2019).

Menurut Maduro, Trump benar-benar menyemburkan kebencian pada rakyat Venezuela.

"Saya membandingkan ini dengan era Hitler, dengan visi yang sama yang dipaksakan Hitler pada orang-orang Yahudi, orang-orang Yahudi di Eropa sebelum perang, hingga 1939," tambah Maduro.

Baca juga: Trump Berlakukan Pembekuan Total Seluruh Aset Pemerintah Venezuela di AS

Baca juga: Maduro: Mantan Kepala Intelijen Bantu Rencanakan Kudeta di Venezuela

Tahun ini, Venezuela menghadapi upaya pimpinan AS untuk menggulingkan pemerintahan Maduro dan menggantikannya dengan pemimpin oposisi dan presiden Juan Guaido yang memproklamirkan diri.

Foto/Reuters

AS telah menjatuhkan sanksi komprehensif terhadap Venezuela dan membekukan beberapa aset negara.

Maduro menyebut Guaido sebagau boneka AS dan menuduh Amerika Serikat mengatur kudeta untuk melakukan perubahan paksa dalam pemerintahan di Venezuela dan mengklaim sumber daya negara.

Maduro menuduh mantan Presiden Kolombia, Alvaro Uribe Velez pernah berencana untuk menyewa tentara bayaran untuk membunuhnya.

Maduro selamat dari upaya pembunuhan di sebuah parade militer Venezuela di Caracas pada Agustus 2018. Dalam serangan itu bangku kepresidenan dihantam oleh dua drone yang dipasangi bom, menyebabkan tujuh petugas keamanan terluka, sementara Maduro selamat tanpa cedera.

Maduro berulang kali mengklaim bahwa Amerika Serikat (AS) menginstruksikan Kolombia untuk mengatur pembunuhannya, tuduhan yang dibantah oleh Bogota mau pun Washington.

Ia mengatakan bahwa dia memiliki bukti yang membuktikan bahwa Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton telah mendalangi upaya percobaan pembunuhannya pada 2018. Sebelumnya pada Desember 2018, Maduro juga menuduh Bolton menyiapkan rencana untuk menggulingkan dan membunuhnya.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini