nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Tulisan yang Hilang dari Gigi Palsu Perdana Menteri Jepang

Rahman Asmardika, Jurnalis · Sabtu 21 September 2019 08:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 09 20 18 2107378 kisah-tulisan-yang-hilang-dari-gigi-palsu-perdana-menteri-jepang-J7J5uHYLRd.jpg Perdana Menteri Jepang pada Masa Perang Dunia II, Hideki Tojo. (Foto: Wikipedia)

SETELAH dijatuhkannya bom atom di Kota Hiroshima dan Nagasaki, Jepang secara resmi menyerah tanpa syarat, mengakhiri Perang Dunia II. Dengan berakhirnya konflik yang menelan jutaan nyawa manusia itu, pengadilan terhadap pihak-pihak yang bertanggungjawab, dan para pelaku kejahatan perang pun dimulai, termasuk terhadap pemerintah Jepang.

Pemimpin Jepang selama perang, Perdana Menteri Hideki Tojo dihadapkan ke pengadilan militer untuk mempertanggungjawabkan apa yang diperbuat negaranya di bawah perintahnya. Namun, sebelum pengadilan dimulai, PM Tojo menghadapi sebuah masalah yang cukup mengganggu.

Giginya tidak dalam kondisi yang buruk sehingga tidak bisa digunakan dengan baik, yang berarti dia tidak akan dapat berbicara di persidangan. Tojo menyatakan keinginan untuk dapat berbicara atas namanya sendiri selama persidangan, dan karena itu dia akan memerlukan gigi palsu.

Jack Mallory dan George Foster memeriksa gigi Perdana Menteri Jepang, Hideki Tojo.

Dilansir Vintage News, Jack Mallory, seorang petugas pembuatan gigi palsu untuk Angkatan Laut Amerika Serikat yang telah ditempatkan di rumah sakit terdekat di Tokyo, dan akan dikirim untuk memeriksa mulut Tojo. Bersama dengan dokter giginya, George Foster, Mallory ikut melakukan pemeriksaan terhadap sang PM dan memperkirakan tindakan yang tepat mengenai apa yang dia butuhkan.

Mengetahui dirinya tidak akan hidup lama setelah persidangan karena menghadapi eksekusi mati, Tojo hanya menginginkan gigi palsu untuk deretan atas giginya, alih-alih set gigi palsu lengkap. Yang dia inginkan hanyalah menyampaikan apa yang ingin pemikirannya pada persidangan.

Ketika Jack dan George bekerja membuat gigi palsu itu, Mallory berpikir untuk membuat beberapa perubahan pada karyanya. Dia ingin mengebor kata-kata “Remember Pearl Harbor” (Ingatlah Pearl Harbor) di bagian dalam gigi, tetapi dia tahu bahwa jika ketahuan dia akan segera diseret ke pengadilan militer. Jadi, dia memilih untuk mengambil rute yang lebih samar, dengan menggunakan kode Morse.

Sebagai orang yang pernah menangani operasi radio amatir, Jack tahu bagaimana cara menuliskan kata-kata “Remember Pearl Harbor” dalam bentuk titik-titik dan garis yang kemudian dibor ke dalam gigi palsu itu.

Tidak mungkin Tojo mengetahui atau memahami pesan itu. Mallory berpikir itu akan menjadi cara yang bagus untuk meletakkan kata-kata di mulut orang yang telah menyebabkan begitu banyak kesedihan dan penderitaan bagi negaranya.

Hideki Tojo dalam persidangan kejahatan perang di Manila.

Dalam sebuah wawancara, Jack Mallory mengklaim perbuatannya tidak didasari oleh kebencian atau kemarahan, melainkan sebuah keisengan, cara yang lucu untuk secara diam-diam menyatakan penentangan terhadap pria yang menyebabkan luka jangka panjang bagi dunia.

Mallory dan George Foster menceritakan kisah lelucon ini di antara beberapa teman dokter gigi mereka, tetapi cerita itu dengan cepat bocor, bahkan kemudian sampai ke sebuah stasiun radio Amerika di Texas.

Menyadari bahwa dia akan mendapat masalah jika berita itu didengar pejabat tinggi AS, Jack Mallory terpaksa memberi tahu langsung kepada atasannya tentang apa yang telah dilakukannya.

Atasannya, yang menganggap tindakan Mallory lucu, memerintahkan kedua dokter gigi itu untuk menghapus semua bukti tentang apa yang telah mereka lakukan, sebelum mereka tertangkap. Maka, keduanya melakukan kunjungan tengah malam ke penjara untuk mengambil kembali gigi palsu guna melakukan perbaikan gigi “darurat”.

Mereka memastikan untuk menggerus semua titik dan garis dari gigi palsu tersebut, menyembunyikan semua bukti dari apa yang telah mereka lakukan. Sekarang, jika seorang perwira atasan mengetahui tentang klaim tersebut, mereka dapat dengan mudah menyangkal apa yang terjadi.

Tidak ada bukti bahwa gigi palsu Tojo pernah mengandung pesan yang mengingatkannya akan kejahatan perang di Pearl Harbor.

Sedangkan untuk Tojo, dia tidak pernah mengetahui tentang apa yang dulu ada di gigi palsunya. Dia dipaksa menjalani pengadilan atas kejahatannya, dinyatakan bersalah dan dihukum mati dengan digantung.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini