PALEMBANG - Kabut asap pekat yang menyelimuti menyebabkan berbagai aktivitas terganggu, termasuk jadwal penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badarudin II Palembang. Setidaknya ada 21 penerbangan mengalami delay akibat kabut asap.
BMKG Sumatera Selatan menyatakan, jarak pandang di Palembang berkisar 300-1000 meter dengan kelembapan udara 85-95% pada Senin (23/9/2019) pagi.
Pantauan Okezone, transportasi darat, sungai maupun udara terganggu akibat kabut asap. Bahkan, kendaraan roda 4 harus menghidupkan lampu jalan di siang hari.
Warga Palembang banyak yang memilih untuk menutup pintu ataupun jendela agar kabut asap tak masuk rumah, terutama ibu-ibu yang mempunyai bayi atau yang dalam keadaan hamil.
"Cucu saya sudah 4 hari ini tidak keluar rumah karena demam, dia mengalami batuk pilek dan sakit tenggorokan. Tapi untuk dibawa ke rumah sakit kami tidak ada biaya," ucap Solha.
BMKG merilis, dalam partikulat matter 10 (PM 10), udara di Palembang menunjukan angka 632.06 ugram/m3 per hari ini. Hal tersebut membuat Palembang menduduki posisi pertama kualitas udara 'berbahaya' di Indonesia karena kabut asap.

"Di Sumatera Selatan masih berpotensi terjadi Kebakaran Lahan, Kebun dan Lahan (Karhutbunla) seperti di wilayah OKI, Ogan Komering Ulu Timur, Ogan Ilir, Muara Enim, Pali, Musi Rawas, Banyuasin dan Musi Banyuasin," ujar Prakirawan BMKG Sumsel.
BMKG Sumsel meminta masyarakat selalu waspada dan memakai masker saat beraktifitas di luar rumah. "Waspada potensi polusi udara akibat sebaran asap kebakaran hutan atau lahan pada sore hingga dini hari di wilayah Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir, Muara Enim, Banyuasin, Musi Banyuasin dan Palembang," ujarnya.
(Qur'anul Hidayat)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.