PARTAI Komunis Indonesia (PKI) merupakan sejarah kelam bangsa Indonesia. Sejarah kelam itu adanya peristiwa di tahun 1965 atau 54 tahun lalu. Peristiwa kelam itu dikenal G-30/S PKI atau G 30 S/PKI atau Gerakan 30 September.
Peristiwa itu di Jakarta dan Yogyakarta. Di mana saat itu terjadi pemberontakan PKI, dengan menculik beberapa perwira TNI Angakatan Darat (AD).
Pembantaian itu dilakukan secara kejam. Di mana perwira TNI dibuang di sebuah tempat. Monumen Lubang Buaya, namanya.

Perwira TNI yang gugur tersebut mendapatkan gelar sebagai Pahlawan Revolusi atau Pahlawan Nasional.
Siapa saja sosok Pahlawan Revolusi dalam peristiwa pembantaian dalam G-30/S PKI itu? Berikut ulasannya dari berbagai sumber dan data yang diperoleh Okezone.
Letnan Jenderal Anumerta Suprapto
Saat muda Suprapto sudah berkeinginan menjadi seorang prajurit. Ketika Suprapto tamat dari salah satu sekolah menengah atas (SMA) di Yogyakarta, pada 1941.
Usai menyelesaikan jenjang pendidikan di SMA, Suprapto masuk ke akademi militer di Bandung, Jawa Barat. Di Kota Kembang itu Suprapto mendaftarkan diri ke Koninklijke Militaire Akademie atau Akademi Militer Kerajaan Belanda.

Namun, sebelum masa pendidikan militernya selesai. Jepang masuk ke Indonesia dan mengambil alih kekuasaan Belanda, pada 1942.
Pria asli Purwokerto, kelahiran 20 Juni 1920 ini masih penasaran lantaran belum menjadi tentara. Berangkat dari hal tersebut Suprapto mengikuti kursus kepemudaan yang diselenggarakan pemerintah militer Jepang.
Lalu, Suprapto menjadi bagian dari angkatan perang Dai Nippon yang tengah waspada menghadapi Perang Timur Raya melawan Sekutu.
Suprapto sempat bergabung dengan laskar militer Jepang di Indonesia. Mulai dari Seinendan atau Barisan Pemuda, Syuisyintai atau Barisan Pelopor.
Selanjutnya, Suprapto juga sempat bergabung di Keibodan atau Barisan Pembantu Polisi (Pusat Sejarah ABRI, Biografi Pahlawan Nasional dari Lingkungan ABRI, 1979:51).