Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Penggunaan Pisau dalam Penyerangan Wiranto Menunjukkan Perubahan Pola Teroris

Penggunaan Pisau dalam Penyerangan Wiranto Menunjukkan Perubahan Pola Teroris
Menko Polhukam Wiranto sebelum menjadi korban penusukan. (Foto: Ist)
A
A
A

PENGAMAT terorisme Stanis Riyanta menilai penggunaan pisau dalam penyerangan terhadap Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto di Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, pada Kamis 10 Oktober 2019 siang, menunjukkan perubahan pola jaringan terorisme di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut dia, teror yang awalnya cenderung dilakukan kelompok besar, kini lebih sering dilakukan kelompok kecil, bahkan individual (lone wolf).

"Kalau kelompok besar mereka punya sumber daya besar. Kalau tidak punya sumber daya, mereka akan melakukan aksi apa pun, yang penting tuntutan ideologinya tercapai," ujar Stanis, sebagaimana dikutip dari BBC Indonesia, Jumat (11/10/2019).

Hasil pemeriksaan polisi, pelaku pertama diketahui bernama Syahril Alamsyah alias Abu Rara (31). Abu Rara tercatat sebagai warga Desa Tanjung Mulia Hilir, Kecamatan Medan Deli, Kota Medan, Sumatera Utara.

Sedangkan pelaku kedua yakni Fitri Andriana binti Sunarto (21) yang berstatus istri Abu Rara. Ia merupakan warga Desa Sitanggal, Kecamatam Karangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

Baca juga: Jokowi Perintahkan Mensesneg dan Seskab Koordinasikan Pengamanan Pejabat 

Kurang dari satu jam setelah peristiwa itu, Polri mengambil kesimpulan bahwa para pelaku terpengaruh ideologi radikal ISIS. Dasar argumen tersebut adalah ciri serangan simpatisan ISIS yang kerap menargetkan pejabat pemerintah.

"Mereka menganggap anggota Polri, pejabat publik, khususnya pejabat pemerintah, itu sebagai thoghut atau musuh," kata Karo Penmas Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo kepada BBC Indonesia.

"Pejabat itu yang mengancam keberadaan mereka," ujarnya.

Baca juga: Tujuh Fakta Penusukan Wiranto oleh Terduga Teroris Jaringan ISIS 

Kepada pers di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan mengatakan Abu Rara merupakan anggota kelompok teror Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Ia mengungkapkan, polisi kini juga tengah berupaya mengejar anggota JAD lain yang berkaitan dengan terorisme.

"Kami sudah mengidentifikasi bahwa pelaku berasal dari kelompok JAD Bekasi. Abu Rara awalnya dari JAD Kediri, lalu pindah ke Bogor."

"Setelah cerai dengan istri pertama, dia pindah ke Menes. Dia difasilitasi seseorang bernama Abu Samsudin untuk tinggal di sana," papar Budi.

"Dari awal kami mendeteksi kelompok JAD ingin membuat instabilitas dengan melakukan amaliah, termasuk Abu Rara," tuturnya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement