nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sejarah Waduk Jatiluhur, 14 Desa Berkorban untuk Tenggelam Demi Cadangan Air Jabar

Mulyana, Jurnalis · Selasa 15 Oktober 2019 11:16 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 10 15 525 2117030 sejarah-waduk-jatiluhur-14-desa-berkorban-untuk-tenggelam-demi-cadangan-air-jabar-cdXIqOkM0C.jpg Ilustrasi

PURWAKARTA – Waduk Ir Djuanda (Jatiluhur) Kabupaten Purwakarta, merupakan salah satu waduk buatan multifungsi yang ada di Jawa Barat. Termasuk, menjadi obyek wisata favorit. Keindahannya pun tak diragukan lagi. Tak heran, jika sampai saat ini kawasan tersebut masih memiliki pesona yang luar bagi para pelancong.

Bendungan Waduk Jatiluhur mulai dibangun sejak tahun 1957 oleh kontraktor asal Prancis Compagnie française d'entreprise, dengan potensi air yang tersedia sebesar 12,9 miliar meter kubik per tahun dan merupakan waduk serbaguna pertama di Indonesia.

Waduk Jatiluhur dibangun dengan membendung Sungai Citarum dengan luas daerah aliran sungai seluas 4.500 kilometer persegi.

Waduk Jatiluhur

Genangan yang terjadi akibat pembangunan Bendungan Waduk Jatiluhur menenggelamkan 14 Desa dengan penduduk berjumlah 5.002 orang. Penduduk tersebut kemudian sebagian dipindahkan ke daerah sekitar bendungan dan sebagian lainnya pindah ke Kabupaten Karawang. Sebagian besar penduduk waktu itu bekerja sebagai petani

Bendungan ini dibangun mulai tahun 1957 dengan peletakan batu pertama oleh Presiden RI pertama Ir Soekarno dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 26 Agustus 1967. Pembangunan bendungan Waduk Jatiluhur menelan dana USD 230 juta.

Baca Juga: Bendungan Jatiluhur Terancam Korosi Akibat Tingginya Kadar Asam Air

Nama bendungan waduk dinamakan Ir. H. Djuanda karena untuk mengenang jasanya dalam memperjuangkan pembiayaan pembangunan Bendungan Jatiluhur. Ia yang merupakan Perdana Menteri RI terakhir dan memimpin kabinet Karya (1957-1959) bersama-sama dengan Ir. Sedijatmo dengan gigih memperjuangkan terwujudnya proyek Jatiluhur di Pemerintah Indonesia dan forum internasional.

Waduk Jatiluhur

Sebagai pengelola waduk buatan itu, Perum Jasa Tirta (PJT) II Jatiluhur, mentransformasi Waduk Jatiluhur, dari yang semula hanya untuk cadangan air, kini menjelman menjadi salah satu objek wisata unggulan.

Sejauh ini, PJT II memang telah menyiapkan sejumlah fasilitas penunjang bagi pengunjung. Dari mulai wahana air, hingga fasilitas penunjang wisata lainnya. Saat ini, pihak pengelola juga telah menambah fasilitas lainnya. Yakni, sebuah hotel bintang tiga yang lokasinya tak jauh dari bibir danau tersebut.

Direktur Utama PJT II Jatiluhur, U Saefudin Noer menuturkan, sebenarnya dulu juga banyak terdapat penginapan dengan konsep bungalaw dan resort. Hanya saja, di 2016 lalu terjadi kebakaran hebat yang menghanguskan hampir seluruh bangunan penginapan di lokasi itu. Saat ini, lokasi tersebut kita bangun kembali (rebuild).

“Namun, konsep saat ini jadi perhotelan,” ujar Saefudin kepada Okezone.

Hotel Pasanggarahan, begitulah fasilitas penginapan ini dinamai. Menurutnya, hotel ini memiliki keterikatan dengan sejarah pembangunan Waduk Ir Djuanda. Apalagi, lokasi ini dulunya merupakan penginapan para insinyur dari Prancis selama pembangunan bendungan pada 1957-1967.

Dirut PJT II Jatiluhur

Setelahnya, bangunan yang didirikan pada 1955 itu dijadikan hotel. Namun, nama hotel bersejarah itu kurang populer hingga akhirnya terjadi kebakaran hebat pada 28 Desember 2016 lalu.

Setelah hampir tiga tahun berlalu, kata dia, PJT II akhirnya menyelesaikan pembangunan Hotel Pesanggrahan tersebut. Hotel tersebut, kini mulai menerima tamu perusahaan maupun para wisatawan ke kawasan Waduk Jatiluhur.

Dia menjelaskan, walaupun dibangun ulang konstruksinya masih menggunakan bagian pondasi dan bawah bangunan yang ada seperti dulu. Jasa Tirta II juga mempertahankan gaya arsitektur klasik dari Eropa atau art deco.

Baca Juga: Musim Kemarau Datang, Jabar Waspada Kekeringan

“Bangunan yang baru ini juga mempertahankan bentuk lama di bagian galeri (yang berfungsi sebagai resepsionis hotel),” jelas dia.

Selebihnya, bangunan hotel tersebut dibangun dengan konsep yang baru. Gaya arsitektur tersebut dipadukan dengan unsur tradisional masyarakat setempat yang direpresentasikan dengan instalasi bambu sebagai pagar pembatas di lorong kamar hingga hiasan dekat jendela.

“Fasilitas hotel ini teritegrasi dengan wisata alam di kawasan ini. Bahkan, hotel ini bisa juga digunakan untuk acara-acara resmi, pelatihan-pelatihan dan diklat,” tambah dia.

Sementara itu, Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika mengaku, pihaknya sangat mengapresiasi upaya yang dilakukan perusahaan BUMN ini. Apalagi, hal ini guna menunjang sektor pariwisata di wilayahnya.

"Munculnya hotel-hotel seperti ini, tentunya turut membantu pemerintahan dalam menyiapkan sarana penunjang untuk sektor pariwisata," ujar Anne.

Hotel Pasanggrahan Jatiluhur

Dalam hal ini, pihaknya juga mendorong supaya PJT II bisa turut memperhatikan sektor UMKM di wilayah ini. Sehingga, perekonomian masyarakat di sekitar kawasan tersebut bisa turut terdongkrak.

Anne menambahkan, selama ini Purwakarta memiliki tempat wisata unggulan yang lokasinya di pusat kota. Yakni, Taman Sribaduga (Situ Buleud). Menurutnya, kawasan Waduk Jatiluhur ini juga termasuk suguhan menarik bagi warga yang doyan berwisata.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini