nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Takut Dibunuh, Ratu Kecantikan Iran Minta Suaka ke Filipina

Rachmat Fahzry, Jurnalis · Rabu 23 Oktober 2019 17:16 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 10 23 18 2120749 takut-dibunuh-ratu-kecantikan-iran-minta-suaka-ke-filipina-hgDF58ePam.jpg Ratu kecantikan Iran, Bahareh Zare Bahari. (Foto: Instagram/Daily Mail)

MANILA - Seorang ratu kecantikan Iran meminta suaka kepada Filipina karena takut dibunuh negaranya.

Bahareh Zare Bahari, seorang mahasiswa kedokteran gigi yang mewakili Iran pada kontes Miss Intercontinental 2018 di Manila, ditahan di bandara Ninoy Aquino selama enam hari setelah Iran mengeluarkan Pemberitahuan Merah (Red Notice) Interpol.

Baca juga: Iran Hukum Mati Seorang Mata-Mata AS

Baca juga: Cerai dengan Mantan Raja Malaysia, Ratu Kecantikan Rusia Jual Cincin Nikah demi Persalinan

Perempuan 31 tahun itu mengatakan Iran menuduhnya telah melakukan serangan, namun tudingan itu dibantah Bahareh. Dia yakin dia menjadi sasaran karena pandangan politiknya tentang Republik Islam Iran dan mendukung hak-hak perempuan.

“Mereka akan membunuh saya,” katanya kepada The Telegraph via Daily Mail, Rabu (23/10/2019).

“Tidak tidak ada informasi terbaru mengani alasan [mereka] menahan saya di sini begitu lama,” ujar Bahareh.

Foto/Daily Mail

Pihak berwenang Filipina mengatakan Bahareh ditahan memasuki wilayah mereka karena adanya Pemberitahuan Merah.

Bahareh dituduh menyerang warga Iran di Filipina.

Markk Perete dari departemen kehakiman Filipina, mengatakan kepada The Telegraph, “Kami tidak memiliki alasan untuk menolak dia masuk."

Tawaran suaka Bahareh sekarang sedang ditinjau dan dia sudah didampingi penasihat hukum.

Pada bulan Januari Bahareh muncul di sebuah pawai yang membawa foto Reza Pahlavi, pewaris terakhir dari Negara Kekaisaran Iran.

"Saya menggunakan fotonya di atas panggung untuk menjadi suara rakyat saya, karena semua berita dan media mengabaikan orang-orang [seperti] saya," kata Bahari.

Dia dikurung di Terminal 3 karena dia khawatir akan nyawanya atau minimal 25 tahun di penjara Iran.

Dia membantah melakukan kejahatan di Filipina atau Iran, tempat dia belajar kedokteran gigi sejak 2014.

Organisasi Hak Asasi Manusia (HAM), Human Rights Watch meminta Filipina untuk memberikan dukungan kepada Bahari yang sedang mencari suaka, dan menegaskan bahwa Pemberitahuan Merah Interpol bisa batal dan tidak berlaku jika orang yang dituntut adalah pengungsi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini