nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kasus Penemuan 39 Mayat di Inggris: Perjalananku ke Luar Negeri Gagal, Aku Tidak Bisa Bernapas

Rachmat Fahzry, Jurnalis · Sabtu 26 Oktober 2019 16:05 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 10 26 18 2122062 kasus-penemuan-39-mayat-di-inggris-perjalananku-ke-luar-negeri-gagal-aku-tidak-bisa-bernapas-MFZitN3ewN.jpg Pham Thi Tra My asala Vietnam diduga salah satu korban penemuan 39 mayat di Inggris. (Foto/BBC)

ESSEX – Seorang keluarga Vietnam menduga ada kerabatnya yang menjadi salah satu korban kasus penemuan 39 mayat di dalam truk di Essex, Inggris.

Pham Thi Tra My (26) mengirimkan sejumlah pesan pada Selasa (22/10) mengatakan bahwa dia tidak bisa bernapas.

"Aku benar-benar minta maaf, ibu dan ayah, perjalananku ke luar negeri gagal,” isi pesan Pham menyitir BBC, Sabtu (26/10/2019)

"Aku sekarat, aku tidak bisa bernapas. Aku sangat mencintaimu, ibu dan ayah. Aku minta maaf, Ibu."

Polisi awalnya menyebut seluruh korban berkebangsaan China.

Foto/Reuters

Keluarganya yang khawatir tidak mendengar kabar dari Pham meminta bantuan dari seorang aktivis hak asasi manusia.

Baca juga: 39 Mayat Ditemukan di Dalam Truk, Polisi Inggris Tangkap Pria 25 Tahun 

Baca juga: Pengakuan Pria Vietnam yang Menjadi Petani Ganja di Inggris

Hoa Nghiem dari Human Rights Space di Hanoi menulis tentang penderitaan keluarga korban di media sosial dan termasuk foto korban yang hilang. 

"Keluarga telah meminta bantuan. Orang itu mengatakan kepada saya ada enam orang lain yang meminta bantuan serupa untuk mendanai keberadaan saudara atau anggota keluarga mereka karena mereka juga kehilangan kontak sejak 23 Oktober," katanya mengutip Daily Mail. 

"Kami tidak tahu apakah itu akan menghasilkan enam kasus saat kami memverifikasi nama. Dan kami tidak tahu apakah mereka ada di truk Essex itu. Kami berharap tidak ada," ujarnya. 

Nghiem mengatakan bahwa Pham telah pergi ke China untuk melanjutkan perjalanannya ke Inggris dengan harapan memiliki kehidupan yang lebih baik. 

Pham diyakini tidak berhasil mencoba memasuki Inggris pada awal Oktober, karena dihentikan oleh polisi dan kembali ke titik masuknya di Prancis. 

Keluarganya mengatakan bahwa Pham membayar penyelundup manusia hingga senilai 30.000 Poundsterling (sekira Rp540 juta) dalam upaya untuk mendapatkan izin masuk ke Inggris.

Kerabat juga mengatakan korban telah melakukan upaya kedua untuk memasuki Inggris sebelum kontak dengannya terputus. 

Dua keluarga Vietnam lainnya juga mengemukakan kekhawatiran bahwa anggota keluarga yang hilang mungkin berada di atas truk kontainer. 

Mereka adalah kerabat seorang pria berusia 26 tahun dan seorang wanita berusia 19 tahun. 

Dalam sebuah pernyataan, Kedutaan Besar Inggris di Hanoi mengatakan; "Kebangsaan para korban belum dikonfirmasi pada tahap ini." 

"Otoritas Inggris bekerja secepat mungkin untuk mengidentifikasi para korban dan memberi tahu keluarga mereka," lanjut kedutaan tersebut. 

"Ini adalah tragedi yang mengerikan dan pikiran serta belasungkawa kami bersama keluarga dan teman-teman semua orang yang telah meninggal dengan sedih," imbuh Kedutaan Besar Inggris. "Otoritas Inggris akan melakukan penyelidikan penuh dan menyeluruh." 

Seorang juru bicara Kedutaan Besar Vietnam mengaku telah dihubungi oleh keluarga di Vietnam yang mengklaim anak perempuan mereka hilang sejak truk kontainer berisi 39 mayat itu ditemukan. 

"Kami telah menghubungi Polisi Essex dan kami sedang menunggu jawaban," kata juru bicara tersebut. 

Polisi dihubungi untuk datang ke Waterglade Industrial Park di Grays pukul 01.40 pagi pada hari Rabu, di mana mereka menemukan mayat 31 pria dan delapan wanita. 

Semua korban pada awalnya diyakini warga negara China, tetapi laporan itu sekarang dipertanyakan. 

Sejumlah sumber mengklaim geng-geng Snakehead mungkin berada di belakang perjalanan terakhir para korban yang berbahaya, di mana para ahli mengatakan para korban mati lemas atau mati beku. 

Polisi dilaporkan menyelidiki apakah beberapa korban dikirim untuk bekerja sebagai pekerja seks di Inggris bersama dengan pekerjaan perbudakan di salon kuku, panti pijat dan restoran.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini