Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Candu Game di Gadget Lebih Dahsyat dan Berbahaya dari Jatuh Cinta

Taufik Budi , Jurnalis-Sabtu, 26 Oktober 2019 |09:59 WIB
Candu <i>Game</i> di <i>Gadget</i> Lebih Dahsyat dan Berbahaya dari Jatuh Cinta
Ilustrasi
A
A
A

SEMARANG – Game yang tertanam dalam gawai (gadget) dinilai menjadi candu yang lebih dahsyat daripada jatuh cinta kepada lawan jenis. Bahkan, sejumlah anak harus dilarikan ke rumah sakit jiwa (RSJ) karena didiagnosa menderita gangguan jiwa akibat kecanduan game online.

“Indikator orang itu dikatakan nyandu (game gadget) atau tidak, itu indikatornya adalah penggunaan berlebih. Jadi istilahnya adalah excessive fuse, ketika melek mata maka pikirannya langsung nyantol ke sana (game online),” kata Psikolog Klinis, Indra Dwi Purnomo, S. Psi., M. Psi, Jumat (25/10/2019).

“Kemudian perasaannya sangat butuh banget. Kalau di narkoba itu rasa rindu, kangen, seperti orang kangen banget yang tidak bisa dipenggak (dihalangi). Seperti orang jatuh cinta tapi lebih dahsyat lagi. Game online ini seperti orang jatuh cinta pandangan pertama,” terangnya.

“Kalau kita jatuh cinta itu bisa meng-cancel (menggagalkan) banyak kegiatan tetapi tidak semuanya, tapi game online ini bisa semuanya (digagalkan). Dan itu istilahnya adalah problem tingkah laku yaitu kemunduran sosialnya, karena yang utama adalah game,” tambahnya.

Lipsus Gila Gadget (Foto: Okezone)

Dosen Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata Semarang ini menuturkan, gejala yang terdeteksi pada orang yang kecanduan game gawai di antaranya susah konsentrasi, gelisah, hingga tidak bisa tidur. Tak jarang, akan mudah marah apabila tak dituruti keinginannya untuk main game.

“Ada perasaan tidak menyenangkan jika tidak pakai game online. Jadi seperti narkoba kalau tidak pakai pikirannya kacau, secara fisik pusing, tidak bisa tidur, gelisah, gampang marah, uring-uringan. Itu yang membuat keluarga jadi bingung, jika ditarik game online-nya jadi masalah, tapi jika diberi juga bermasalah,” beber pria yang juga mengajar Psikologi Forensik di Akademi Kepolisian (Akpol) itu.

Gejala selanjutnya, pecandu akan terus menambah waktu dan frekuensi bermain game gawai. Jika semula hanya tiga kali sehari maka akan bertambah seiring dengan meningkatnya durasi waktu permainan hingga berjam-jam.

“Jika mulanya hanya 3, 4 kali sehari maka jadi meningkat penggunaan game online, sampai perubahan mood kepuasan yang diperoleh saat menggunakan game online. Kemudian juga akan terjadi reaksi negatif yaitu mulai muncul dampak dari pekerjaan yang biasanya. Misalnya sudah enggak kegiatan sosial atau mulai terbatas,” tandasnya.

(Khafid Mardiyansyah)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement