nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Celana Dalam Jadi Kunci Pengungkapan Identitas Pemimpin ISIS Abu Bakr al Baghdadi

Rachmat Fahzry, Jurnalis · Rabu 30 Oktober 2019 14:00 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 10 30 18 2123602 celana-dalam-jadi-kunci-pengungkapan-identitas-pemimpin-isis-abu-bakr-al-baghdadi-bNxQ0xjwbQ.jpg Pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi. (Foto/Reuters)

DAMASKUS – Pasukan Demokratik Suriah (SDF) pimpinan Kurdi mengatakan mata-mata mereka mencuri celana dalam Pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi untuk membuktikan identitasnya melalui tes DNA.

Seorang komandan senior SDF, Polat Can mengklaim sumber mereka juga berperan penting dalam melacak lokasi al Baghdadi sebelum AS melancarkan operasi perburuan.

Baghdadi bunuh diri dalam serangan itu menggunakan rompi bom, yang juga menewaskan tiga anaknya.

Baca juga: Siapa Kayla Mueller, Nama Perempuan yang Dijadikan Operasi Perburuan Pemimpin ISIS

Baca juga: Inilah Anjing Pahlawan Dalam Perburuan Pemimpin ISIS Abu Bakr al Baghdadi

Presiden AS Donald Trump meremehkan peran pasukan Kurdi. Ketika mengumumkan serangan pada 27 Oktober, Trump mengatakan bahwa Kurdi memberikan informasi tetapi ia menambahkan bahwa pasukan Kurdi tidak melakukan "peran militer sama sekali".

Foto/Reuters

Polat Can bersikeras SDF memainkan peran penting dalam serangan di utas Twitter yang diposting.

"Semua intelijen dan akses ke al-Baghdadi serta identifikasi tempatnya adalah hasil dari pekerjaan kami sendiri. Sumber intelijen kami terlibat dalam mengirimkan koordinat, mengarahkan titik lokasi, berpartisipasi dalam dan membuat operasi sukses hingga menit terakhir," katanya.

Can menambahkan bahwa SDF telah bekerja dengan CIA untuk melacak Baghdadi sejak 15 Mei, dan telah menemukan bahwa dia bersembunyi di provinsi Idlib, di mana serangan itu terjadi.

Sumber itu, kata Can, telah menemukan bahwa al Baghdadi akan pindah ke lokasi baru di Jarablus.

SDF telah menjadi sekutu utama AS dalam pertempuran melawan kelompok Negara Islam (IS), tetapi awal bulan ini Trump menarik pasukan Amerika keluar dari Suriah utara.

Para analis mengatakan penarikan AS itu memberi Turki lampu hijau untuk memulai serangan lintas-perbatasan di kawasan itu.

Beberapa sekutu atau kekuatan AS di kawasan itu diberi pemberitahuan terlebih dahulu tentang serangan itu, termasuk Turki, Irak, pasukan Kurdi di Suriah timur laut, dan Rusia, yang mengendalikan wilayah udara di atas Idlib.

Pasukan AS tiba dengan mendapat rentetan tembakan dari tanah, kata laporan.

Saat mendarat, pasukan AS meminta Baghdadi, yang melarikan diri ke terowongan, untuk keluar dan menyerah.

Pasukan AS memasang bom untuk menghindari jebakan di pintu masuk. Baghdadi yang mundur dengan memabwa tiga anaknya masuk ke terowongan buntu. Ia kemudian meledakkan rompi bunuh dirinya, menewaskan dia dan tiga anaknya.

Trump mengatakan hasil tes yang dilakukan memberi identifikasi pasti, segera, dan benar-benar positif bahwa itu adalah Baghdadi.

Tes dilakukan di lokasi oleh teknisi yang menemani personel pasukan khusus dan membawa sampel DNA Baghdadi, kata laporan.

Baca juga: Al Baghdadi Tewas atau Tidak, ISIS di Indonesia Harus Diwaspadai

Mereka menggabungkan teknologi pengenalan wajah dan pembaca DNA yang lebih kecil sehingga pasukan dapat menggunakan helikopter mereka untuk mendapatkan hasil, menurut Daily Beast via BBC, Rabu (30/10/2019).

Para teknisi juga membawa potongan tubuh yang diangkut menggunakan helikopter.

Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Mike Milley, mengatakan bahwa para pejabat Amerika telah membuang jasad Baghdadi.

Dia mengatakan pemakaman telah ditangani dengan tepat tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Seorang pejabat anonim mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa Baghdadi telah diberikan ritual keagamaan sesuai Islam dan dimakamkan di laut.

Proses serupa dilakukan setelah pembunuhan pendiri al-Qaeda Osama bin Laden di Pakistan pada 2011.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini