Belum ada kepastian mengenai kapan dimulainya tradisi palang pintu sendiri, namun duel silat antara dua orang tersebut memang lazim dilakukan untuk bisa mempersunting wanita terutama jika wanita tersebut merupakan putri seorang jawara. Sang jawara akan menikahkan putrinya dengan seorang pria yang bisa mengalahkan putrinya. Bahkan, menurut cerita yang beredar si Pitung juga mengalahkan seorang jawara untuk mempersunting putri jawara itu.
"Kurang tau yang sejak kapan, yang pasti tradisi palang pintu itu untuk menunjukan kalau laki-laki itu mampu melindungi dan mengayomi istrinya" jelas Syafi'i.
Murid di sanggar silat yang dikelola oleh Syafi'i sendiri banyak dipanggil untuk kepentingan palang pintu atau sekedar pentas budaya. Tak hanya sanggar silat milik Syafi'i, sanggar silat lain di daerah kecamatan Benda juga kerap dipanggil untuk mengisi acara budaya.
"Sanggar kecil ada 40 yangg besar paling 3, sekarang ada kelompok-kelompoknya istilahnya paguyuban lah. Jadi kalau ada yang mau menikah pakai palang pintu yang ngambil disini atau di sanggar yang lain," ujar pria yang sudah 30 tahun mengajar silat betawi ini.

Syafi'i berharap silat betawi dan budaya lainnya, masih tetap lestari. Terakhir, Syafi'i mengingatkan siapapun bisa mempelajari silat betawi, karena silat betawi tidak dikhususkan untuk golongan tertentu. Namun yang terpenting adalah niat dan kesungguhan untuk bisa menguasai ilmu silat.
"Silat betawi bisa dipelajari siapapun, laki-laki perempuan, mau dia suku apapun agama apapun boleh, yang penting niat sungguh-sungguh. Karena ilmu silat tidak bisa dikuasai tanpa niat dan kesungguhan hati," tutupnya.
(Khafid Mardiyansyah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.