BOGOR - Bendung Katulampa yang berada di Kota Bogor, Jawa Barat, merupakan 'benteng' pertama mengenai informasi tinggi muka air (TMA) dari kawasan hulu (Puncak) di aliran Sungai Ciliwung.
Pasalnya, informasi dari Bendung Katulampa menjadi krusial bagi masyarakat yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung khususnya di Ibu Kota Jakarta.
Memasuki awal musim penghujan seperti sekarang, berbagai persiapan mulai dari kesiapan personel hingga operasional di bendung peninggalan zaman penjajahan Belanda ini terus ditingkatkan untuk menghadapi berbagai kemungkinan bencana terjadi.
Kepala Jaga Bendung Katulampa Andi Sudirman mengatakan ada sebanyak 10 personel yang disiapkan untuk memantau TMA Sungai Ciliwung selama 24 jam menghadapi musim penghujan.
"Mereka akan mencatat dan memantau ketinggian air di Bendung Katulampa setiap kenaikan debit air. Juga ada personel yang memantau menyusuri sungai," kata Andi, kepada Okezone, Jumat (15/11/2019).
Secara singkat, teknis laporan TMA pertama kali disampaikan para relawan Ciliwung yang berada di kawasan hulu (Puncak) seperti di Ciawi, Cisarua dan Megamendung ke Posko Bendung Katulampa.
Setelah mendapat laporan tersebut, pihaknya sesegera mungkin melakukan pencatatan dan meneruskannya ke seluruh petugas di sepanjang Sungai Ciliwung hingga kawasan hilir (Jakarta).
"Kita akan terus koordinasi dengan BMKG terkait curah hujan di Puncak. Nanti relawan di sana akan melaporkan jika ada hujan dan memantau debit air. Setelah lapor ke posko, kita akan membuat laporan dan peringatan dini ke petugas-petugas lain termasuk instasi tanggap bencana di Jakarta," jelasnya.
Sementara itu, lanjut Andi, puncak musim penghujan di wilayah Bogor dan sekitarnya diprediksi akan terjadi pada awal Januari-Februari 2020 mendatang.
"Kalau puncak musim hujan perkiraan awal tahun nanti. Tapi itu bisa berubah tergantung cuacanya nanti bagaimana. Tapi kami secara keseluruhan selalu siap siaga dalam kebencanaan," ungkapnya.