Pengabdian Guru Honorer di SDN 3 Karangwuni
Sejak tahun 2007 silam, Hendrik Andriyana Lesmana resmi diangkat sebagai guru honorer di SDN 3 Karangwuni. Seperti nasib kebanyakan guru honorer lainnya, pria yang akrab disapa Hendrik ini, mendapat bayaran yang cukup rendah untuk pengabdiannya mengajar di sekolah terpencil di Kabupaten Cirebon.
Selain menjadi guru honorer, ia juga merangkap sebagai operator sekolah. Hendrik mengaku, dengan menjalankan kedua tugasnya ini ia mendapat honor sekitar Rp600 ribu per bulan.
"Saya sebagai guru honorer dan merangkap sebagai operator sekolah. Saya dibayar satu bulannya Rp600 ribu," ujar Hendrik ketika berbincang dengan Okezone, di sela-sela waktu mengajarnya.

Hendrik mengatakan, uang sebesar Rp600 ribu tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Jika dihitung-hitung dengan penghasilannya ini, setiap harinya ia hanya bisa memegang uang sekitar Rp20 ribu. Itu pun belum termasuk keperluan transportasi seperti uang bensin dan sebagainya. Dalam menutupi kekurangannya tersebut, Hendrik bahkan harus mengerjakan pekerjaan sampingan lainnya.
Jarak dari rumah Hendrik menuju SDN 3 Karangwuni sekitar 8 kilometer. Saat berangkat, ia mesti melewati jalan dengan kondisinya yang tidak begitu baik, serta sering longsor pada musim hujan. Ia juga mengaku, pernah beberapa kali menaruh motornya dan berjalan kaki ke sekolah, ketika kondisi jalanan itu sedang berlumpur. Apabila ia tidak melewati jalur tersebut, maka ia akan menempuh jarak yang lebih jauh lagi yakni 16 kilometer.

Hendrik bercerita, salah satu alasan mengapa ia tetap ikhlas untuk mengajar di SDN 3 Karangwuni adalah, karena melihat semangat anak muridnya yang begitu tinggi untuk belajar, meski dalam segala keterbatasan. Ia pun bangga, walau sekolahnya berada di tempat terpencil, para siswa mampu bersprestasi dan bersaing dengan siswa dari sekolah lain.
"Saya udah menjiwai mengajar di sini. Kemarin di kegiatan 17 Agustus, kami menjadi juara satu sepak bola tingkat kabupaten," tuturnya.
Apabila ia boleh memilih, ia ingin tetap mengajar di SDN 3 Karangwuni. Namun, karena kebutuhan ekonomi, ia berencana akan mengiktui seleksi CPNS di Kabupaten Ciamis dalam waktu dekat ini. Hendrik merasa, ketika dirinya mengajar di SDN 3 Karangwuni, suasananya seperti berada di perbatasan antar negara.

Hendrik berharap, Pemerintah khususnya Kemendikbud harus memperhatikan kondisi yang dialami siswanya. Ia pun meminta, supaya guru honorer di sekolahnya diangkat sebagai PNS tanpa syarat. Menurutnya selain mereka, siapa lagi yang akan bersedia mengajar di sekolah terpencil seperti SDN 3 Karangwuni.
"Harapan besar saya kedepannya mudah-mudahan Pemerintah bisa lebih memperhatikan lagi nasib guru honorer di SDN 3 Karangwuni. Dengan mengajar di daerah terpencil seperti SDN 3 Karangwuni dengan keadaan sekolahnya seperti itu fasilitas yang sangat minim, besar harapan saya untuk diangkat jadi PNS," imbuhnya.