Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Balada Guru Honorer di Cirebon, Tetap Ikhlas Mengajar Meski Hanya Miliki 2 Murid

Fathnur Rohman , Jurnalis-Sabtu, 30 November 2019 |10:06 WIB
Balada Guru Honorer di Cirebon, Tetap Ikhlas Mengajar Meski Hanya Miliki 2 Murid
Kelas satu di SDN Karangwuni hanya berjumlah dua murid (Foto: Okezone/Fathnur)
A
A
A

Kurangnya Tenaga Pengajar dan Fasilitas Minim

Syahroni awalnya hanya berjualan di depan SDN 3 Karangwuni. Namun, kemudian ia diminta menjadi penjaga sekolah. Selang beberapa waktu, ia akhirnya diangkat sebagai tenaga pengajar untuk membantu para guru honorer lainnya.

Dari pengakuannya, ia sudah menjadi tenaga pengajar selama tiga tahun. Ia biasanya ikut membantu mengajar di pelajaran agama serta terkadang membantu pelajaran jasmani juga. Ia merasa tergerak, ketika melihat semangat belajar siswa di SDN 3 Karangwuni begitu tinggi. Ia ikhlas dalam menjalankan tugasnya. Ia hanya ingin siswa-siswa tersebut kelak menjadi orang sukses di kemudian hari.

Sebagai tenaga pengajar atau guru honorer tidak resmi, Syahroni diberi honor sekitar Rp150 ribu - Rp200 ribu setiap bulanya. Namun terkadang, pemberian honornya ini mengalami keterlambatan hingga tiga bulan lamanya.

"Sudah hampir tiga tahun. Saya ngajar pelajaran Agama biasanya. Awalnya tergerak untuk membantu karena di sini kekurangan tenaga pengajar. Dari pada kosong mending saya ikut membantu," ujarnya.

SDN Karangwuni (Foto: Okezone/Fathnur)

Selain minimnya tenaga pengajar, Syahroni juga menuturkan, SDN 3 Karangwuni tidak memiliki gedung perpustakaan. Awalnya pihak sekolah sempat mengajukan untuk dibangun gedung perpustakaan itu, tetapi karena jumlah siswanya hanya 26, pengajuan itu akhirnya ditolak.

"Belum dibangun dengan alasan jumlah murid sedikit. Di sini semuanya serba tertinggal. Kalau Pemerintah serius, kirimkan aja bukunya ke sini, walaupun enggak ada perpustakaannya," tambahnya.

Dawud, satu-satunya guru PNS di SDN 3 Karangwuni menjelaskan, di sekolahnya hanya terdapat tiga ruang kelas saja. Setiap kelasnya disatukan menjadi dua bagian di dalam ketiga ruangan itu. Hal ini menurutnya menjadi kesulitan tersendiri, mengingat para guru harus mengajar dua kelas dalam satu ruangan sekaligus.

"Susah. Kosentrasinya terpecah, karena harus mengajar dua kelas sekaligus," kata Dawud.

Dawud dan para guru honorer di SDN 3 Karangwuni berharap, Pemerintah bisa lebih memperhatikan nasib dan kesejahteraan para guru honorer, terutama mereka yang mengajar di sekolah terpencil. Para guru honorer ini sudah berkontribusi banyak untuk memajukan kualitas sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia, meski dalam tugasnya mereka memiliki resiko yang begitu tinggi. Jadi jangan sampai pengabdian mereka menjadi sia-sia karena kesejahteraan mereka tidak tercukupi.

(Khafid Mardiyansyah)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement