nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

DPRD Sulteng Minta Korban Perempuan Dilibatkan Dalam Rekonstruksi Pasca-Bencana

Herman Amiruddin, Jurnalis · Senin 02 Desember 2019 23:06 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 12 02 340 2137138 dprd-sulteng-minta-korban-perempuan-dilibatkan-dalam-rekonstruksi-pasca-bencana-jLtMhvqboG.jpg Sulteng saat terjadi bencana gempa dan tsunami (Foto: Ist)

SULTENG - Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Nilam Sari Lawira menjelaskan bahwa pemulihan pasca-bencana di Sulawesi Tengah, khususnya Palu, Sigi, dan Donggala harus dipandang berdasarkan cetak biru “Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi Sulawesi Tengah" yang telah ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Provinsi Sulawesi Tengah.

Menurut Nilam, dokumen rencana induk itulah, satu-satunya rujukan utama dalam proses pemulihan kembali pasca bencana. Mulai dari gambaran kerusakan secara umum, data kerusakan, data korban, strategi dan pendekatan yang digunakan, maupun gambaran berbagai program yang akan dilaksanakan, berikut taksiran biaya yang diperlukan.

Namun Nilam menekankan kepada pemerintah baik di daerah maupun pusat untuk lebih melibatkan perempuan penyintas atau korban dalam tahap rekonstruksi ini.

Ilustrasi

"Kami mendorong kelompok perempuan menjadi aktor penting dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi. Penting dari segi sebagai kelompok yang paling mengalami tingkat kerentanan paling tinggi, sekaligus sebagai indikator capaian keberhasilan," jelas Nilam dalam keterangan tertulisnya, Senin (2/12/2019).

Kemudian, jelas Nilam, isu-isu krusial perempuan harus bisa ditangkap secara jelas dan terukur ketika proses pembangunan berlangsung. Maka dari itu, semua hal yang berkaitan dengan bagaimana perempuan hadir dalam semua program dan kegiatan, harus bisa dicatat secara kuantitatif tidak sekedar kualitatif.

Ilustrasi

"Dari segi persepektif, menempatkan perempuan penyintas sebagai aktor yang utama tentu kita harus bisa merumuskan indikator sederhana yang bisa diukur. Apakah program dan kegiatan yang sedang berlangsung berdampak kepada manusia atau hanya kepada beton?" papar Nilam.

"Itu yang pertama, dan lebih khusus pada perempuan. Bagaimana kita bisa membawa semua pengalaman perempuan penyintas ke dalam meja kebijaksanaan. Tentu, semua itu tidak cukup hanya sekedar narasi kualitatif, tetapi kita butuh fakta, data dan cerita lengkap dari perempuan penyintas yang telah mengorganisir dirinya," jelasnya.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini