BANDUNG - Di Kota Bandung, banyak terdapat bangunan-bangunan heritage atau bangunan cagar budaya yang sarat akan sejarah. Salah satu gedung yang kini menjadi Markas Kepolisian Resor Kota Besar (Mapolrestabes) Bandung, yang berada di Jalan Merdeka. Ada tiga bangunan yang dikukuhkan sebagai bangunan heritage di Mapolrestabes Bandung.
Diantaranya gedung aula atau gedung utama, yang terdapat empat pilar yang khas bangunan zaman dahulu, kemudian dua lainnya berada di kanan dan kiri gedung utama.
Sedikit yang tahu, gedung tersebut sempat menjadi pergerakan awal dari organisasi Freemasonry (Fremason), atau organisasi yang dikenal sebagai gerakan sosial-religius dengan muatan esoteris, tetapi bersifat universal.
Dalam gerakan Freemason terkandung sifat sebagai perkumpulan sosial sekaligus sebagai gerakan keagamaan dan esoteris (berasal dari kata Yunani kuno ἐσωτερικός (esōterikós), yang berarti suatu hal yang diajarkan atau dapat dimengerti oleh sekelompok orang tertentu dan khusus, dapat juga berarti suatu hal yang susah untuk dipahami).

Namun dari sebagian pandangan masyarakat menilai, kelompok Freemason dipandang sebagai kelompok pemuja setan. Cerita itu terbangun karena adanya kostum atau pakaian dan berbagai cara upacara/ritual dari kelompok ini, hanya dilihat selewat dan tidak dipahami oleh masyarakat awam. Sehingga terbangunlah prespektif kelompok pemuja setan.
Gedung Mapolrestabes Bandung sendiri, dibangun pada 1866 oleh Karel Frederik Holle pemilik Perkebunan Teh Waspada di Garut bersama dengan Raden Haji Moh. Moesa, Kepala Penghulu Limbangan.
Gedung tersebut dulu dibuat untuk membangun sekolah yang bernama Kweekschool. Sekolah tersebut, merupakan sekolah bagi calon guru.
"Makanya sebelah gedung itu, terdapat SD Banjarsari, sebagai tempat praktek para calon guru," ujar Kang Alex dari Komunitas Aleut, yang merupakan komunitas penggiat sejarah, saat diwawancarai melalui sambungan teleponnya pada Rabu (4/12/2019).