nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Paruru Daeng Tau : Saya Bersumpah Tidak Pernah Mengaku sebagai Nabi

Herman Amiruddin, Jurnalis · Rabu 04 Desember 2019 11:44 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 12 04 609 2137779 paruru-daeng-tau-saya-bersumpah-tidak-pernah-mengaku-sebagai-nabi-D5bPqTmHnt.jpg Paruru Daeng Tau mengaku tidak pernah menyebut dirinya nabi (Foto : Okezone.com/Herman)

MAKASSAR - Seorang pria bernama Paruru Daeng Tau diduga telah menyebarkan ajaran sesat lantaran disebut sebagai nabi terakhir di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Beberapa warga, kini telah menjadi pengikut Paruru di Dusun Mambura, Desa Lembang Buntu Datu, Kecamatan Mengkendek, Kabupaten Tana Toraja, Sulsel.

Pemimpin Lembaga Pelaksana Amanah Adat dan Pancasila (LPAAP) ini, punya sekira 50 orang pengikut dan mengajarkan salat hanya dua kali sehari. Selain itu, dia mengubah aturan soal zakat, puasa dan ibadah haji.

Ilustrasi

Paruru Daeng Tau membantah kalau dirinya telah mendeklarasikan diri sebagai nabi terakhir. Apalagi sampai disebut apa yang dia ajarkan ini bertentangan dengan rukun Islam.

"Saya tidak pernah melarang puasa, apalagi salat lima kali sehari," kata Paruru kepada wartawan di Makodim 1414/Tana Toraja, Rabu 4 Desember 2019 malam.

Bahkan Paruru mengaku berani bersumpah atas tudingan dirinya yang mengaku nabi kepada warga disebutkan punya sekitar 50 orang pengikut.

"Saya bersumpah, saya tidak pernah mengatakan kalau saya ini nabi atau rasul," ujar dia.

Sementara itu, Dandim Tana Toraja Letkol Zaenal Arifin mengatakan, hanya kurang memahami ayat Alquran dan materi tentang keislaman yang diajarkan. Namun tidak memiliki pendamping atau pengajar yang tepat, sehingga menyalahartikan ajaran Islam.

"Sebetulnya hanya punya keinginan lebih belajar tentang Islam," katanya.

Baca Juga : Pria di Toraja Ngaku Nabi Terakhir dan Sebarkan Ajaran Sesat

Baca Juga : 2 Anggota TNI Korban Ledakan di Monas Masih Jalani Perawatan

Dia meminta, ke depannya Paruru Daeng Tau harus bisa mendekati ulama dan belajar banyak tentang esensi Islam. Jangan pernah mengartikan ayat-ayat Alquran secara sepotong-sepotong.

"Harus utuh bila ingin belajar Islam. Saya juga minta bapak Paruru untuk berdiskusi dengan ulama," ujar dia.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini