WASHINGTON - Presiden AS Donald Trump menunda rencana untuk secara hukum mencap kartel narkoba Meksiko sebagai kelompok teroris.
Sebelumnya Trump bersumpah untuk mencap geng-geng itu sebagai organisasi teroris setelah pembunuhan sembilan warga Amerika pada bulan lalu di Meksiko.
Namun dia menunda rencana itu atas permintaan koleganya, Presiden Meksiko Andrés Manuel López Obrador.
"Saya merayakan bahwa dia [Trump] telah mempertimbangkan pendapat kami," kata López Obrador melansir BBC, Sabtu (7/12/2019).
"Kami berterima kasih kepada Presiden Trump karena menghargai keputusan kami dan memilih untuk mempertahankan kebijakan bertetangga yang baik, kebijakan kerja sama dengan kami," tambahnya.

Baca juga: Donald Trump Unggah Foto Dirinya Berbadan Petinju Fiksi Rocky Balboa
Baca juga: Trump: Hong Kong Akan 'Dilenyapkan dalam 14 Menit' jika Bukan karena Saya
Trump berencana mencap kartel narkoba sebagai teroris muncul setelah tiga wanita dan enam anak berkebangsaan AS-Meksiko tewas dalam serangan di daerah terpencil di Meksiko utara.
Para korban yangmasuk dalam korban, LeBarons, mengajukan petisi kepada Gedung Putih untuk mendaftarkan kartel sebagai kelompok teroris, dengan mengatakan: "Mereka adalah teroris dan sudah waktunya untuk mengakuinya."

Jika sebuah organisasi dinyatakan sebagai teroris, pemerintah AS bisa memperluas ruang lingkup tindakan hukum dan keuangan AS terhadap kartel, tetapi Meksiko melihatnya sebagai pelanggaran kedaulatannya.
Presiden AS sekarang telah menunda rencana tersebut.
"Semua pekerjaan yang diperlukan telah selesai untuk menyatakan organisasi teroris Kartel Meksiko," tulis Trump di Twitter. "Secara hukum kita siap untuk melakukannya."
Baca juga: 14 Polisi Meksiko Tewas Dibunuh Kelompok Kriminal Usai Konvoi Kendaraannya Diserang
Tetapi Trump mengatakan rekannya dari Meksiko adalah "seorang pria yang saya sukai dan hormati, dan telah bekerja sangat baik dengan kami."
Ia menambahkan bahwa dia menunda penunjukan dan meningkatkan sebagai "upaya bersama untuk menangani secara tegas dengan orang-orang jahat ini dan selamanya organisasi tumbuh!"
Dia tidak berkomentar berapa lama penundaan itu akan berlangsung.
Perang narkoba yang brutal di Meksiko merenggut puluhan ribu jiwa setiap tahun, ketika kelompok-kelompok perdagangan narkoba melakukan perang berebut wilayah dan pengaruh.
Pada 2017, lebih dari 30.000 orang terbunuh di negara itu, dengan tingkat pembunuhan meningkat lebih dari tiga kali lipat sejak 2006.
(Rachmat Fahzry)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.