Dokumen Rahasia Ungkap Rakyat AS Terus Dibohongi Tentang Konflik di Afghanistan

Rahman Asmardika, Okezone · Kamis 12 Desember 2019 10:12 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 12 18 2140958 dokumen-rahasia-ungkap-rakyat-as-terus-dibohongi-tentang-konflik-di-afghanistan-cPTe9nzNVl.jpg Foto: Reuters.

RATUSAN wawancara rahasia dengan tokoh-tokoh kunci yang terlibat dalam penuntutan perang Amerika Serikat (AS) di Afghanistan mengungkapkan bahwa publik AS telah secara konsisten disesatkan tentang konflik “yang tidak dapat dimenangkan” itu.

Transkrip wawancara yang diterbitkan oleh Washington Post setelah tiga tahun proses hukum itu dikumpulkan oleh Kantor Inspektur Jenderal Khusus untuk Rekonstruksi Afghanistan (Sigar), sebuah agen federal yang bertugas menghilangkan korupsi dan inefisiensi dalam upaya perang AS, sebagai bagian dari proyek Lessons Learned.

BACA JUGA: Lakukan Kunjungan Kejutan ke Afghanistan, Trump Berharap Gencatan Senjata dengan Taliban

Dokumen setebal 2.000 halaman itu mengungkapkan gambaran suram dari banyak sumber yang terlibat dalam perang yang menelan biaya USD1tn, menewaskan lebih dari 2.300 prajurit AS, dan membuat lebih dari 20.000 lainnya terluka. Puluhan ribu warga sipil Afghanistan juga tewas dalam konflik yang telah berlangsung selama 18 tahun itu.

The Guardian mengatakan bahwa dokumen itu memberikan cerita yang serupa dengan Pentagon Papers, sejarah rahasia militer AS tentang perang Vietnam yang bocor pada 1971. Pentagon Papers menceritakan kisah yang juga meresahkan tentang kegagalan militer AS di Vietnam.

Wawancara itu dikumpulkan mulai 2014, di samping audit rutin Sigar untuk mengidentifikasi apa yang bisa dipelajari dari rangkaian kegagalan kebijakan AS di Afghanistan.

Meski banyak kegagalan perang di Afghanistan telah diekspos oleh Sigar, seringkali dalam laporan yang sangat teknis, kumpulan wawancara itu memberikan kesaksian pengamat yang biasanya tidak diperhatikan dan dapat diakses dengan mudah.

BACA JUGA: 4 Jendral Besar AS Terkena Kutukan Perang Afghanistan?

Pimpinan Sigar, John Sopko mengatakan dalam dokumen itu bahwa penilaian yang terkandung dalam proyek tersebut menunjukkan bahwa "warga Amerika telah terus-menerus dibohongi".

Dua klaim utama dalam dokumen itu adalah bahwa pejabat AS memanipulasi statistik untuk memberi kesan kepada publik Amerika bahwa perang di Afghanistan sedang dimenangkan. Klaim kedua adalah bahwa pemerintah AS berurutan terus menutup mata terhadap korupsi yang meluas di kalangan pejabat Afghanistan, yang memungkinkan penyelewengan dana bantuan AS dengan tanpa mendapat hukuman.

Manipulasi statistik yang telah berlangsung lama itu dirinci dalam sebuah wawancara dengan seorang individu yang diidentifikasi hanya sebagai "pejabat senior Dewan Keamanan Nasional".

“Mustahil untuk membuat metrik yang baik. Kami mencoba menggunakan jumlah pasukan yang terlatih, tingkat kekerasan, kontrol wilayah dan tidak ada yang melukiskan gambaran yang akurat," kata pejabat itu dalam sebuah wawancara pada 2016. "Metrik selalu dimanipulasi selama masa perang."

Tentara AS dan NATO menyelidiki lokasi serangan bom bunuh diri di Kabul, Afghanistan, 5 September 2019. (Foto: Reuters)

Dokumen-dokumen itu menggambarkan pandangan banyak orang tentang konflik dengan tujuan perang yang tidak jelas dan tidak dapat diraih di bawah tiga presiden AS, George W Bush, Barack Obama dan Donald Trump, yang keberhasilannya diduga berulang kali ditampilkan dalam kondisi yang dilebih-lebihkan.

BACA JUGA: AS Habiskan Rp86.210 Triliun dan Tewaskan 500 Ribu Orang Dalam Perang Pasca 9/11

Dalam salah satu penilaian Douglas Lute, seorang letnan jenderal yang menjabat sebagai pejabat perang Afghanistan Gedung Putih selama pemerintahan George W Bush dan Barack Obama, mengatakan dalam wawancara pada 2015: “Kami tidak memiliki pemahaman mendasar tentang Afghanistan - kami tidak tahu apa yang kami lakukan."

“Apa yang kita coba lakukan di sini? Kami tidak sama sekali tidak memiliki gagasan tentang apa yang kami lakukan,” tambahnya.

"Jika rakyat Amerika mengetahui besarnya disfungsi ini... 2.400 nyawa telah hilang."

Bob Crowley, seorang kolonel tentara yang menjabat sebagai penasihat senior anti-pemberontak untuk komandan militer AS pada 2013 dan 2014 mengatakan bahwa "setiap poin data diubah untuk menyajikan gambar terbaik".

"Survei, misalnya, benar-benar tidak dapat diandalkan tetapi menegaskan bahwa semua yang kami lakukan adalah benar dan kami menjadi kerucut es krim yang menjilat sendiri."

Presiden Donald Trump saat mengunjungi tentara AS di Pangkalan Udara Bagram, Afghanistan, November 2019. (Foto: Reuters)

Dokumen-dokumen tersebut yang diperoleh setelah Washington Post dua kali pergi ke pengadilan federal untuk meminta transkrip wawancara, mengidentifikasi hanya 62 orang yang diwawancarai. Sebanyak 366 nama lainnya dihapus setelah Sigar bersikeras mereka harus diperlakukan sebagai pelapor dan informan.

Para komentator dan pakar kebijakan luar negeri dengan cepat menunjukkan pentingnya dokumen-dokumen itu, dengan banyak yang menghubungkannya dengan Pentagon Papers.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini