nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kapolda Sumbar Bayar Rp100 Juta pada Keluarga Tahanan yang Tewas Dianiaya

Rus Akbar, Jurnalis · Kamis 12 Desember 2019 19:51 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 12 12 340 2141248 kapolda-sumbar-bayar-rp100-juta-pada-keluarga-tahanan-yang-tewas-dianiaya-1Y47dTpKTB.jpg Kapolda Sumbar Irjen Pol Fakhrizal bayar ganti rugi pada keluarga korban penganiayaan (Foto : Okezone.com/Rus)

BUKITTINGGI - Perjuangan Alamsyahfudin orang tua dari almarhum Erik Alamsyah korban yang meninggal ditahanan Polres Bukittinggi, Sumatera Barat, akhirnya membuahkan hasil setelah Mahkamah Agung (MA) resmi menolak Peninjauan Kembali (PK) Kepolisian Daerah Sumatera Barat, Polres Bukittinggi membayarkan ganti Rugi kepada Alamsyahfudin sebesar Rp100.700.000 pada Kamis (12/11/2019).

Pembayaran tersebut diserahkan langsung Kapolda Sumatera Barat Irjen Pol Fakhrizal kepada Alamsyahfudin dihadapan Ketua Pengadilan Negeri Bukittinggi Hapsoro Restu Widodo, sesuai dengan putusan Pengadilan Nomor 7/Pdt.G/2013/PN.Bkt. Penyerahan tersebut bertempat di Kantor Kepolisian Resor Bukittinggi.

Ilustrasi Shutterstock

Menurut Kepala Bidang Pembaharuan Hukum dan Komunitas (PHK) Lembaga Buntuan Hukum (LBH) Aldo Arbi, kasus ini bermula meninggalnya Erik Alamsyah di Kantor Kepolisian Sektor Bukittinggi akibat penganiyaan yang dilakukan oleh enam orang oknum anggota kepolisian pada 2012, sebagaimana telah diputus bersalah oleh Pengadilan Negeri Bukittinggi dalam perkara pidana Nomor 75/Pid.B/2012/PN.BT.

Selanjutnya, Alamsyahfudin yang diwakili oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang mengajukan Gugatan Perlawanan Melawan Hukum (PMH) terhadap Kepolisian Negara Republik Indonesia dan 6 enam orang oknum kepolisian, telah melakukan penganiyaan yang menyebabkan meninggal anak penggugat yang bernama Erik Alamsyah (19) dalam tahanan Polsek Bukittinggi.

Dalam gugatan perdata tersebut LBH Padang menuntut ganti rugi materil dan immateril akibat kematian Erik Alamsyah serta meminta maaf kepada Alamsyafuddin secara terbuka di tujuh harian umum cetak dan lima media televisi lokal dan nasional.

Baca Juga : Tahanan tewas usai diinterogasi polisi

Baca Juga : Yenny Wahid Tekankan Pentingnya Kekuatan Agama untuk Selesaikan Masalah Dunia

Baca Juga : Pemuda di Nabire Papua Bunuh Anak 6 Tahun Lalu Perkosa Mayatnya

Namun dalam putusan yang dibacakan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bukittinggi Supardi, Juanda, dan Roni Susanta, pada 7 November 2013 mengabulkan sebagian gugatan Alamsyahfudin dengan amar menghukum kepolisian serta oknun anggota Polresta Bukittinggi untuk membayar kepada Alamsyafudin kerugian materiil dan immateriil sebesar Rp100.700.000 tanpa mengabulkan petitum gugatan terkait permintaan maaf dari Kepolisian.

“Kita menghargai kepolisian, hari ini telah menjalankan putusan pengadilan untuk membayarkan hak keluarga korban, namun kita tetap berhadap kepolisian untuk meminta maaf kepada penggugat keluarga Erik Alamsyah atas meninggalnya anak korban, serta mulai memperbaiki proses Penyelidikan dan Penyidikan, tidak lagi dengan mengunakan kekerasan untuk memperoleh pengakuan dari terlapor atau tersangka,” ujar Aldi Harbi yang mendampinggi Alamsyafuddin di Pengadilan Negeri Bukittinggi.

Aldi menambahkan, setelah kejadian ini semoga ada perbaikan proses penyelidikan dan penyidikan dilingkungan kepolisian khususnya Sumatera Barat agar tidak mengunakan kekerasan terhadap terduga pelaku.

Kekerasan dalam proses penyelidikan dan Penyidikan telah melanggar ketentuan Pasal 28G Ayat (2) UUD 1945 serta Pasal 1 angka 4 (Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia).

Seperti diketahui, Erik Alamsyah, tersangka pencurian kendaraan bermotor (curanmor) tewas setelah diduga dianiaya oleh enam anggota Polsek Bukittinggi, 30 Maret 2012. Hasil visum menyebutkan, di tubuh Erik ditemukan luka memar akibat penganiayaan. Akibat kematian korban, Kapolsek Bukittinggi, Kompol Yessi Kurniati dicopot dari jabatannya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini