JAKARTA - "Mungkin Tuhan telah bosan melihat tingkah kita yang selalu bangga akan dosa-dosa atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang," demikian lagu yang dibawakan Heru Setiawan (36) di Stasiun Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat, bebera waktu lalu.
Suara merdu dari pria berbadan tambun itu terkadang terdengar sayup saat kereta rel listrik (KRL) datang lalu lalang mengantarkan penumpang.
Namun, Heru tetap menyanyikan lagunya berharap orang yang lalu lalang di pintu masuk atau keluar Stasiun Gondangdia terhibur. Sesekali tampak para pengguna KRL itu memberikan sedikit rezekinya dalam kantong kresek yang terletak tepat di atas speaker.

"Ya (penghasilan) kalau cukup sih cukup, buat makan mah cukup," kata Heru mengawali perbincangannya.
Heru setiap harinya juga menumpangi KRL Pasar Minggu dan turun di Stasiun Gondangdia untuk mencari sesuap nasi guna kelanjutan hidupnya.
Suara Heru sesekali bergetar saat ditanyai bagaimana perjuangannya untuk mencari nafkah. Ia terpaksa mengamen selama minimal 4 jam sehari mulai pukul 16.00 WIB sampai 21.00 WIB.

"Alhamdulillah selama ini tidak pernah iseng. Semua menyambut baik," ujar dia saat ditanya bagaimana perlakuan pengguna KRL.
Heru mengaku beruntung sempat mengenyam pendidikan sampai SMA. Saat SMP ia sekolah umum namun SMA dirinya sekolah bagi warga berkebutuhan khusus di Bandung.