nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

'Tanpa Memberi Tahu, Orang Tua Kami Jalankan Bisnis Rahasia Pornografi Gay'

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Senin 16 Desember 2019 04:04 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 12 16 18 2142244 tanpa-memberi-tahu-orang-tua-kami-jalankan-bisnis-rahasia-pornografi-gay-zyjGaPmxDU.jpg Barry dan Karen Mason di tokonya, Circus of Books (Rachel Mason/BBC)

INI bukan pilihan karier yang direncanakan oleh Karen dan Barry Mason, tapi toko mereka telah menjadi bagian sejarah homoseksual di Los Angeles, Amerika Serikat.

Dari luar, mereka tampak seperti keluarga terhormat.

Karen sempat menjadi wartawan di koran di kota Chicago dan Cincinnati. Barry bekerja sebagai teknisi spesial efek di industri film, termasuk di Star Trek dan film 2001 Space Odyssey.

Mereka punya tiga anak yang rajin beribadah dan belajar dengan tekun di sekolah.

Barry sempat membuat alat pengaman untuk mesin cuci darah.

Namun perusahaannya bangkrut, ia dan keluarganya butuh penghasilan lain dengan segera.

Karen melihat sebuah iklan di koran LA Times untuk menjadi distributor majalah porno Hustler dan barang-barang lain yang diproduksi oleh jutawan pebisnis pornografi Larry Flynt.

Pasangan Mason pun masuk ke dalam industri pornografi.

Ternyata mereka berbakat berbisnis. Dalam beberapa minggu mereka menerima 5.000 pesanan, dan mengantarkan sendiri ke para pelanggan di seluruh Los Angeles.Ilustrasi

Barry Mason saat bekerja sebagai teknisi spesial efek di serial TV Star Trek (Rachel Mason)

Hustler adalah majalah porno yang ditujukan untuk kaum heteroseksual, tetapi bisnis Flynt juga mencakup penerbitan majalah gay.

Segera barang-barang itu masuk dagangan keluarga Mason.

Beberapa tahun kemudian, mereka mengambil alih toko buku terkenal yang menjual buku-buku porno gay di Hollywood, Book Circus.

Karen dan Barry mengubah namanya menjadi Circus of Books, tahun 1982.

Lebih dari sekedar menjual buku, toko itu kemudian menjadi tempat pertemuan komunitas gay di LA.

Ketiga anak mereka Micah, Rachel dan Josh, diberi perintah tegas setiap kali mengunjungi toko: tak boleh melihat atau menyentuh apa pun yang ada di sana.

Ketiganya juga diperintahkan tak boleh menyebut sama sekali nama toko itu kepada teman-teman mereka.

"Kepada orang-orang, kami cuma bilang kami punya toko buku,'" kata Karen.

Namun langkah-langkah ini tak sepenuhnya berhasil.

Micah, yang tertua, tak sengaja menemukan video porno di bagasi mobil Karen. Rachel sempat diberi tahu rahasia keluarga ini ketika umurnya 14 tahun. Saat itu ia tak tahu apa itu pornografi.

Ketika tahu ia terkejut.Ilustrasi

Keluarga Mason (Rachel Mason)

Ayahnya, Barry selalu berpembawaan santai, tapi ibunya sangat relijius dan moralistik. Rachel memandang mereka sebagai pemilik bisnis biasa, seperti halnya keluarga yang punya dan mengelola toko.

"Tak terbayang sama sekali bagi saya, orang tua saya melakukan sesuatu yang tak sesuai budaya kami," kata Rachel.

Di bawah pengelolaan Karen dan Barry, Circus of Books sukses.

Mereka membuka cabang di daerah Silverlake. Mereka juga mulai memproduksi video porno untuk gay, dibintangi Jeff Stryker.

Usaha distribusi pornografi masih mereka teruskan dan ini hampir membawa bencana ke mereka.

Tahun 1986, Presiden Ronald Reagan sempat menyatakan perang terhadap pornografi, menyebutnya sebagai "polusi".

Reagan memerintahkan Jaksa Agung Edwin Meese menyelidiki industri ini, yang menghasilkan laporan 2.000 halaman, yang disebut Meese Report.

Di saat yang sama, tindakan hukum mulai dilakukan, membuat bisnis keluarga Mason mulai tertekan.

Saat itu distributor pornografi hanya menjual barang dagangan ke orang-orang yang mereka kenal. Namun suatu hari mereka membuat kesalahan mengirim pesanan ke pelanggan bernama "Joe's video store".

Ternyata mereka adalah polisi federal Amerika atau FBI.

Toko milik Mason pun dirazia dengan senjata terkokang. Suami istri Mason pun dituntut dengan tuduhan peredaran gelap materi cabul menyeberang batas negara bagian.

Anak-anak tak tahu. Barry terancam hukuman lima tahun penjara dan denda besar. Toko tampaknya bakal tutup.

Namun mereka tidak menyerah.

Pengacaranya menggunakan alasan kebebasan berbicara dan menekankan dampak serius terhadap keluarga seandainya Barry dihukum berat.Ilustrasi

Akhirnya Barry mengaku bersalah dan tidak dipenjara. Toko mereka tetap buka.

Sempat tak siap menerima anaknya yang gay

Masa awal wabah AIDS merebak, Karen dan Barry adalah pengusaha ideal.

Mereka selalu mengunjungi pegawai mereka yang terinfeksi.

Menurut aturan, staf yang menderita AIDS tak boleh bekerja karena bisa kehilangan asuransi kesehatan mereka. Namun Karen membolehkan staf bekerja saat mereka merasa nyaman, dan ia akan merahasiakannya.

"Saya perbolehkah mereka bekerja, dan saya bayar upah mereka dengan uang tunai. Sebetulnya itu ilegal, tapi tak ada alasan mereka kehilangan pekerjaan," kata Karen.

Sekali pun toko mereka jadi tempat pertemuan komunitas gay, di rumah tak ada perbincangan tentang seksualitas sama sekali.

Diam-diam, anak mereka Rachel mulai menjalani hidup sebagai homoseksual, tanpa sepengetahuan orang tuanya.

Rachel tidak pernah terbuka kepada keluarganya soal seksualitas. Ia hanya tampil sebagai anak yang artistik dan pemberontak.

Jadi tak terlalu mengherankan ia mengajak seorang gadis perempuan ke acara pesta dansa sekolah.

Namun adiknya Josh berbeda. Ia seorang ambisius dan membawa ambisi ibunya untuk menjadi seorang yang berhasil.

"Saya menyerap ambisi ibu untuk menjadi orang yang sempurna," kata Josh.

Sampai suatu malam ia tak tahan lagi. Ia menulis di selembar kertas: 'Saya gay' dan meletakkannya di atas meja.

Sebelumnya, ia sudah bersiap untuk pergi dari rumah seandainya diusir. Ia sudah membeli tiket pesawat untuk pergi.

Karen mengenang reaksinya ketika tahu soal itu.

"Saya bilang ke Josh, 'Yang benar? Kenapa kamu jadi begini? Ini pasti hukuman Tuhan kepada saya!'" katanya. "Saya tak masalah seandainya orang lain gay, tapi saya tak siap mempunyai anak gay."

Belakangan Karen sadar bahwa reaksinya melukai Josh.

Namun di saat yang sama, ia merasa kesulitan bicara padanya soal seksualitas, maka ia memutuskan mencari pertolongan.

"Saya perlu paham apa rasanya menjadi orang tua yang punya anak gay," katanya.

Karen lalu bergabung dengan organisasi orang tua yang memiliki anak homoseksual bernama PFLAG (Parents and Friends of Lesbians and Gays).

"Saya harus bisa menerima. Orang tua kadang punya harapan terhadap anak mereka, tapi itu sebetulnya urusan orang tua, bukan urusan si anak."

"Ketika yang gay adalah anak saya, saya paham bahwa pandangan saya tentang gay harus diubah," kata Karen.

Lalu Barry dan Karen kemudian menjadi duta besar PFLAG untuk membantu orang lain memahami seksualitas dan perbedaan gender anak-anak mereka.

Lesu karena internet

Ketika internet mulai tersedia, Circus of Books - toko komunitas di mana orang bertemu dan berkumpul - mulai mengalami kemunduran.

Cabang di Silverlake tutup tahun 2016; dan di West Hollywood tutup bulan Februari tahun ini.

"Ketika toko kami tutup, reaksi para pelanggan luar biasa. Mereka masuk dan menangis di dalam toko," kata Rachel.

Para pelanggan lama dan bekas pegawai berduka atas hilangnya salah satu daerah aman bagi mereka, yang juga menjadi bagian dari sejarah kaum gay Los Angeles.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini