Tahun 1986, Presiden Ronald Reagan sempat menyatakan perang terhadap pornografi, menyebutnya sebagai "polusi".
Reagan memerintahkan Jaksa Agung Edwin Meese menyelidiki industri ini, yang menghasilkan laporan 2.000 halaman, yang disebut Meese Report.
Di saat yang sama, tindakan hukum mulai dilakukan, membuat bisnis keluarga Mason mulai tertekan.
Saat itu distributor pornografi hanya menjual barang dagangan ke orang-orang yang mereka kenal. Namun suatu hari mereka membuat kesalahan mengirim pesanan ke pelanggan bernama "Joe's video store".
Ternyata mereka adalah polisi federal Amerika atau FBI.
Toko milik Mason pun dirazia dengan senjata terkokang. Suami istri Mason pun dituntut dengan tuduhan peredaran gelap materi cabul menyeberang batas negara bagian.
Anak-anak tak tahu. Barry terancam hukuman lima tahun penjara dan denda besar. Toko tampaknya bakal tutup.
Namun mereka tidak menyerah.
Pengacaranya menggunakan alasan kebebasan berbicara dan menekankan dampak serius terhadap keluarga seandainya Barry dihukum berat.
Akhirnya Barry mengaku bersalah dan tidak dipenjara. Toko mereka tetap buka.
Sempat tak siap menerima anaknya yang gay
Masa awal wabah AIDS merebak, Karen dan Barry adalah pengusaha ideal.
Mereka selalu mengunjungi pegawai mereka yang terinfeksi.
Menurut aturan, staf yang menderita AIDS tak boleh bekerja karena bisa kehilangan asuransi kesehatan mereka. Namun Karen membolehkan staf bekerja saat mereka merasa nyaman, dan ia akan merahasiakannya.
"Saya perbolehkah mereka bekerja, dan saya bayar upah mereka dengan uang tunai. Sebetulnya itu ilegal, tapi tak ada alasan mereka kehilangan pekerjaan," kata Karen.
Sekali pun toko mereka jadi tempat pertemuan komunitas gay, di rumah tak ada perbincangan tentang seksualitas sama sekali.
Diam-diam, anak mereka Rachel mulai menjalani hidup sebagai homoseksual, tanpa sepengetahuan orang tuanya.
Rachel tidak pernah terbuka kepada keluarganya soal seksualitas. Ia hanya tampil sebagai anak yang artistik dan pemberontak.
Jadi tak terlalu mengherankan ia mengajak seorang gadis perempuan ke acara pesta dansa sekolah.
Namun adiknya Josh berbeda. Ia seorang ambisius dan membawa ambisi ibunya untuk menjadi seorang yang berhasil.
"Saya menyerap ambisi ibu untuk menjadi orang yang sempurna," kata Josh.
Sampai suatu malam ia tak tahan lagi. Ia menulis di selembar kertas: 'Saya gay' dan meletakkannya di atas meja.