Dalam sehari Tummi bisa memecahkan batu sebanyak lima rinjing (keranjang yang terbuat dari bambu). Satu rinjingnya dihargai Rp2.500. Jika dihitung, menurut Tummi ia bisa mendapatkan uang sekitar Rp12.500. Tummi juga mengaku bisa memecahkan batu paling banyak sekitar 20 rinjing setiap minggunya.
Tidak setiap hari batu yang dipecahkan Tummi bisa terjual. Bahkan sudah dua bulan ini batu yang ia pecahkan menumpuk. Tummi kemudian terkadang ikut bersama suaminya mengayak pasir.
"Mungkin lagi gak ada proyek. Jadi gak ada yang beli batunya, " katanya.
Tummi menuturkan, bahwa batu yang ia pecahkan bukan berasal dari sungai. Batu tersebut ia dapatkan ketika mengayak pasir. Saat pasir sudah selesai disaring, maka batu-batu yang sempat bercampur akan tertinggal. Batu-batu itu kemudian akan dipisahkan dan dibawa oleh Tummi.

"Kalau ngambil sungai di dekat sini kan gak bisa. Saya bawa anak. Jadi saya ambil kalo selesai ngayak pasir, " ungkapnya.
Sebenarnya, penghasilan dirinya dan suaminya masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia sering berhutang kepada pemilik warung ketika membeli kebutuhan pokok seperti beras, minyak, sayuran, dan lainnya.
Dari pekerjaannya sebagai pemecah batu, Tummi berharap bisa meringankan beban suaminya, meskipun penghasilan yang ia dapat sangat minim. Ia juga sangat ingin melihat anak-anaknya sukses dikemudian hari. "Harapan saya sih, semoga anak-anak saya bisa sukses nantinya," ucap dia.
(Khafid Mardiyansyah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.