Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Demi Bertahan Hidup, Nenek Sinot 20 Tahun Lakoni Tukang Sapu Jalan

Hambali , Jurnalis-Sabtu, 21 Desember 2019 |13:02 WIB
 Demi Bertahan Hidup, Nenek Sinot 20 Tahun Lakoni Tukang Sapu Jalan
Nenek Sinot saat menyapu jalanan di Tangsel (foto: Okezone.com/Hambali)
A
A
A

Sejak awal menjadi tukang sapu, Nenek Sinot hanya diupah sebesar Rp10 ribu dalam sepekan. Kini setelah sekira 20 tahun berlalu, upahnya mengalami penambahan menjadi sekira Rp180 ribu seminggu. Pendapatan itu memang jauh di bawah kata cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Habis mau kerja apalagi, memang dari dulu jadi tukang sapu. Ijazah sekolah juga nggak punya, jadi walaupun upah segini yang penting halal," lanjutnya.

Saat ditemui di area Taman Kota 2, Nenek Sinot beserta ibu-ibu berusia senja lainnya tengah bekerja menyapu sampah yang berserakan. Tiap hari, dia mulai bekerja dari pukul 07.00 WIB sampai pukul 11.00 WIB. Tercatat, ada 10 penyapu jalan di lokasi itu.

"Kerjanya Senin sampai Sabtu, kalau hari Minggu libur. Kalau habis dibayar, baru bisa beli beras sayur sama lauk setok buat seminggu ke depan. Memang nggak cukup, nanti anak saya Usman yang bantu nutupi kebutuhan lainnya," terangnya.

Menurut Nenek Sinot, seringkali dia harus terhenti tiba-tiba saat menyapu. Hal itu dikarenakan bagian kaki dan dengkulnya berasa lemas dan nyeri. Jika demikian, Nenek Sinot memilih beristirahat sejenak di bawah rerimbunan pohon Taman Kota 2.

"Ini pinggang sering nyeri, sama dengkul lemas gemeteran. Kalau udah begitu, nenek istrahat dulu sebentar baru dilanjut lagi. Mungkin faktor usia juga," ungkapnya.

 Nenek Sinot

Sebelumnya, upah para penyapu jalan di Taman Kota 2 dibayarkan oleh pihak swasta BSD. Namun sejak 2 tahun belakangan, pembayaran upah sepenuhnya ditanggung oleh pengelola perparkiran Taman Kota 2.

"Ini yang bayar upah anak-anak yang mengelola parkir di sini. Alhamdulillah ada kepedulian, jadi kita masih bisa cari nafkah di sini," terangnya.

Apa yang dilakukan Nenek Sinot memberi motivasi luas bagi banyak kalangan, khususnya kalangan perempuan dan generasi muda, bahwa mereka tak boleh menyerah dengan keadaan maupun keterbatasan.

"Kita kerja apa saja yang penting halal. Jangan sampai hidup karena dikasihani orang lain, apalagi dengan meminta-minta," lanjutnya.

Secara logis pada umumnya, kondisi fisik dengan usia renta sepertinya sudah harus beristirahat penuh tanpa memusingkan kebutuhan makan dan minum. Namun fakta di lapangan menunjukkan, cukup banyak perempuan berusia senja yang masih bekerja keras demi mengais sesuap nasi.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement