Kisah Sedih Jelang Natal, Pak Ati : Apakah Masih Ada Ubi dan Jagung untuk Dimakan?

Ade Putra, Okezone · Sabtu 21 Desember 2019 02:04 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 21 340 2144525 kisah-sedih-jelang-natal-pak-ati-apakah-masih-ada-ubi-dan-jagung-untuk-dimakan-tIw1ivg9W1.jpg Pak Ati sekeluarga tidak terlalu memikirkaan perayaan Natal (Foto : FRKP)

PONTIANAK - Juliardi Ati, seorang kepala keluarga di Dusun Peluntan Behe, Kecamatan Meranti, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, sampai saat ini masih terbaring lemah. Pria yang akrab disapa Ati ini tidak bisa bergerak untuk bekerja menafkahi keluarganya.

Ati divonis lumpuh total setelah tertimpa pohon beberapa waktu silam. Hal ini tentu membuat dia tidak bisa memenuhi kebutuhan istri dan empat anaknya. Baik kebutuhan sehari-hari maupun untuk pendidikan anak.

Sementara istrinya, mengambil upah menebas rumput di sawah orang lain. Hasil perjuangan istrinya inilah dapat sedikit menutupi kebutuhan keluarga.

Pak Ati terbaring lemas karena lumpuh (Foto : FRKP)

Meski terhimpit ekonomi, warga yang tinggal di pedalaman ini sudah bersyukur jika masih ada ubi dan jagung yang bisa disantap keluarganya. Ia pun tak begitu memikirkan hari raya Natal nanti.

"Saat saya berkunjung ke rumah Pak Ati, kami bercerita tentang persiapan Natal. Dia bilang ke saya begini 'Kami tidak memikirkan Natal. Kami hanya berpikir, apakah ubi dan Jagung masih ada untuk dimakan'. Saat itu, Pak Ati sambil terbaring dan tersenyum," kisah Bruder Stephanus Paiman, Ketua Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP) menirukan ucapan Ati kepada Okezone, Jumat (20/12/2019).

Meski hidup dalam keterbatasan, Ati tetap selalu memikirkan nasib pendidikan anak-anaknya. Anak pertamanya, seorang putra yang masih duduk di kelas 1 SMP, tiga putri lainnya masing-masing duduk di kelas 5, 3 dan 1 SD.

Baca Juga : Seribu Lilin untuk Mahasiswi Bengkulu Korban Pembunuhan Sadis

"Sambil mengunyah buah rambai muda yang dikupas putrinya, Pak Ati bilang kepada saya, bahwa dia tidak dapat bergerak (untuk bekerja, red) dan dia kasihan dengan masa depan anak-anak, bagaimana sekolah mereka," kata Stephanus.

Kala itu pun, sambung Stephanus, putri dari Ati ini melayani ayahnya sambil merebus ubi untuk makan malam mereka. "Waktu itu, si ibu sedang berjuang mengambil upah merumput di sawah orang," tuturnya.

Melihat penderitaan tersebut, membuat hati Stephanus terpanggil untuk menyalurkan bantuan. Selaku Ketua FRKP, ia pun mengumpulkan bantuan baik yang ada di FRKP maupun dari eks anak asrama Timonong, Cita Rasa, Perduki dan Yayasan Gembala Baik serta pihak lainnya.

"Setelah menerima sedikit bantuan dari kami, Pak Ati bilang bahwa sekarang mereka bisa Natal karena ada sedikit kue dan minuman serta uang untuk beli obat. Tak terasa air menetes dari pelupuk mata saya mendengar ucapan Pak Ati," tutup Stephanus.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini