Dia menjelaskan, PT KAI getol melakukan revitalisasi Stasiun Tawang untuk meningkatkan pelayanan kepada konsumen sekaligus melestarikan peninggalan sejarah. Apalagi, saat ini pemerintah juga gencar meningkatkan pariwisata dari bangunan-bangunan masa lampau.
“Jadi kepemimpinan waktu itu mempunyai pemikiran ke depan bahwa bangunan tua ternyata mempunyai nilai historis, dan mempunyai nilai jual yang sangat tinggi, mempunyai daya tarik apalagi masih tergolong cagar budaya,” beber dia.
Dia menambahkan, proses revitalisasi juga dilaksanakan secara serius agar dapat mempertahankan nilai historis. Bahkan, PT KAI juga memberangkatkan tim ke Belanda untuk mencari literatur dan dokumen pendukung tentang bangunan Stasiun Tawang.
“Kita juga mencari literatur bukti-bukti yang asli, karena waktu itu dari pihak PT KAI sampai dikirim ke Belanda untuk mencari keaslian gambar-gambar yang dimaksud,” terangnya.
“Kemudian dari warna cat, harus dikembalikan seperti putih aslinya di foto. Jadi itu tidak beli cat sembarangan. Stasiun Tawang itu ada warna putihnya khusus, tidak sekadar putih. Kan putih itu macem-macem ada putih tulang, putih susu, dan sebagainya,” jelasnya.
Hingga kini proses perawatan stasiun terus dilakukan secara hati-hati agar bangunan tersebut terjaga kelestariannya. “Sekarang itu bangunan-bangunan yang tergolong cagar budaya peninggalan Belanda itu tidak diperbolehkan merusak tembok dengan cara memaku, sebisa mungkin menghindari,” tegasnya.

(Fiddy Anggriawan )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.