nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Deplu AS Setujui Penjualan 12 Jet Tempur Senilai Rp37,8 Triliun ke Singapura

Rahman Asmardika, Jurnalis · Jum'at 10 Januari 2020 18:01 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 01 10 18 2151497 deplu-as-setujui-penjualan-12-jet-tempur-senilai-rp37-8-triliun-ke-singapura-5FY3lyejSj.jpg Foto: Reuters.

SINGAPURA - Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) telah menyetujui penjualan hingga 12 jet tempur F-35 dan peralatan terkait ke Singapura dengan perkiraan biaya USD2,75 miliar (sekira Rp37,8 triliun). Menurut Badan Kerjasama Keamanan Pertahanan AS (DSCA) di Washington, penjualan pesawat-pesawat mutakhir itu hanya tinggal menunggu persetujuan dari Kongres AS untuk dapat dilakukan.

Tahun lalu Singapura mengatakan, bahwa pihaknya berencana untuk membeli empat F-35 dari Lockheed Martin Corp, dengan opsi pembelian delapan unit lagi. Pembelian pesawat itu dilakukan untuk mengganti armada F-16-nya yang sudah semakin lawas.

"Departemen Luar Negeri telah membuat keputusan menyetujui kemungkinan penjualan militer asing ke Singapura hingga 12 unit jet tempur F-35B. Pesawat dan peralatan terkait dengan perkiraan biaya USD2,750 miliar," kata DSCA dalam sebuah pernyataan yang dilansir Reuters, Jumat (10/1/2020). DSCA menambahkan pihaknya telah memberi tahu Kongres mengenai kemungkinan penjualan tersebut.

DSCA mengatakan penjualan itu termasuk peralatan dari Lockheed dan pembuat mesin Pratt and Whitney. Varian F-35B dari jet ini dapat menangani lepas landas jarak pendek dan pendaratan vertikal, atribut yang dipandang menguntungkan bagi Singapura yang tidak memiliki wilayah daratan yang besar.

Pada Oktober 2019 Pentagon mengumumkan penurunan sebesar 13% harga jet F-35 untuk tiga tahun. Langkah tersebut dipandang sebagai upaya mendorong negara-negara lain untuk membeli pesawat tempur yang menjadi proyek senjata termahal di dunia itu. Jet F-35 saat ini menghasilkan sekira 25% dari pendapatan tahunan Lockheed.

Dengan anggaran pertahanan terbesar di Asia Tenggara, Singapura tampaknya ingin berinvestasi dalam teknologi baru dan peningkatan peralatan militernya. Hal itu membuat Negeri Singa menjadi target utama bagi perusahaan-perusahaan persenjataan global.

Singapura menyisihkan sekitar 30% dari total pengeluarannya untuk upaya pertahanan, keamanan dan diplomasi dalam anggaran tahunan 2019-nya.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini