Diintimidasi Tak Berhijab, Siswi SMA Takut ke Sekolah

Rabu 15 Januari 2020 11:30 WIB
https: img.okezone.com content 2020 01 15 512 2153089 diintimidasi-tak-berhijab-siswi-sma-takut-ke-sekolah-sQvcuHOEs5.jpg Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati. (Foto: Solopos.com)

SRAGEN — Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati, bakal turun tangan menengahi permasalahan intimidasi yang dialami Z (16), siswi di SMAN 1 Gemolong karena tidak berjilbab.

Z mendapat perlakuan tidak mengenakkan dari oknum pengurus Kerohanian Islam (Rohis) sekolah setempat. Siswi Kelas X asal Kecamatan Miri itu merasa diintimidasi oleh salah seorang pengurus Rohis lantaran tidak berhijab. Intimidasi itu disampaikan melalui pesan Whatsapp (WA). Pada awalnya, pesan itu disampaikan langsung ke nomor siswi berinisial Z tersebut.

Oknum pengurus Rohis itu terus menerus mengirimi pesan supaya Z mau menjalankan syariat Islam dengan cara berhijab. Hampir setiap hari pesan itu masuk ke nomor ponselnya sehingga ia merasa terganggu.

Akibat kasus ini, Kusdinar berencana menggelar mediasi dengan mengumpulkan Z bersama orang tua, kepala SMAN 1 Gemolong, dan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) hari ini, Kamis (16/1/2020), sebagaimana diberitakan Solopos.com.

Bupati menilai permasalahan intimidasi siswi oleh oknum pengurus Kerohanian Islam (Rohis) karena tidak berjilbab itu sebetulnya sudah diselesaikan melalui mediasi yang digelar di SMAN 1 Gemolong pada Senin 6 Januari 2020. Akan tetapi, muncul persoalan baru yang membuat Z tidak berani bersekolah.

Foto: Istimewa

“Faktornya apa saja yang membuat persoalan itu tak kunjung selesai, nanti akan diurai dalam mediasi. Tapi mohon maaf, dalam mediasi itu, saya tidak ingin melibatkan pihak ketiga terlalu jauh. Jadi, mediasi itu akan dilakukan secara tertutup,” terang Bupati Yuni saat ditemui wartawan di kantornya.

Bupati menegaskan, tidak ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan dengan cara duduk bersama. Dalam hal itu, dia tidak setuju dengan ketelibatan sejumlah lembaga swadaya masyarakat dan aktivis peduli perempuan dan anak yang mendesak kepala sekolah dan guru PAI dimutasi karena dianggap tak bisa menjalankan tugasnya dengan baik.

“Perlu dipahami bersama, mutasi kepala sekolah dan guru itu tidak bisa diintervensi pihak luar. Kita ini hidup di zaman yang beradab. Tidak ada permasalahan yang tidak bisa diselesaikan dengan duduk bersama,” ucap Bupati.

Bupati menekankan, pentingnya pendampingan kepada Z untuk memulihkan kondisi psikologisnya pasca-mendapat intimidasi dari pengurus Rohis karena tidak berjilbab. Dalam hal ini, Bupati bisa melibatkan tenaga psikolog untuk membangkitkan semangat dan motivasi Z melanjutkan belajarnya di sekolah.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini