"Saya nanemnya langsung 5 meter. Jadi, dua tahun ditanam langsung buah. Dan yang saya tanam itu buah-buahan. Jadi, warga sekitar situ juga senang, jadi mereka boleh ambil buahnya," tuturnya.
Baca Juga: Pasca-Banjir, Pemkot Surabaya Lobi Pengembang Pasang Box Culvert di Saluran Air
Pihaknya juga menyiapkan pompa-pompa yang mengendalikan permukaan air, sehingga secara alamiah air bisa masuk melalui waduk-waduk. Sekarang ini luar biasa curah hujan, di Surabaya rata-rata 150-180 meter kubik per detik.
"Kemudian, di sekitaran pantai, karena kami enggak punya uang kalau kemarin saya lihat di Jakarta itu pakai sitpal, kami enggak punya uang. Jadi, saya membuat apa, tanggul waduk dari tanah saya pikir di Belanda saja pakai itu, kenapa saya harus pakai mahal-mahal. Saya pakai itu lebarnya kurang lebih 15 meter, tingginya kurang lebih 20 meter," ungkapnya.
Menurut Risma, dulu kawasan Surabaya barat selalu terkena Kali Lamong. Setahun bisa dua sampai tiga kali banjir. Namun, sudah lima tahun ini tidak terjadi banjir.
(Arief Setyadi )