nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pengakuan Perempuan Indonesia soal Perkawinan Pesanan di China

Kamis 23 Januari 2020 22:08 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 01 23 18 2157427 pengakuan-perempuan-indonesia-soal-perkawinan-pesanan-di-china-XtCFdd0l2V.jpg Perempuan Indonesia jadi korban 'Perkawinan Pesanan' di China (Foto : BBC Indonesia)

PEMERINTAH Indonesia menyatakan telah memulangkan 40 orang perempuan asal Kalimantan dan Jawa dari China selama tahun 2019. Para perempuan itu 'terjebak' sindikat perdagangan orang dengan dijadikan pengantin pesanan.

Kartel pengantin pesanan diduga kuat meraup keuntungan materi sebagai penghubung antara perempuan Indonesia dan pria China. Meski sebagian perempuan Indonesia itu menikah dengan kemauan sendiri, salah satunya karena rayuan kesejahteraan. Belakangan, mereka berkeras ingin pulang.

Janji kemapanan yang kosong hingga rindu keluarga di kampung halaman adalah alasan mereka tidak betah lalu kabur dari rumah suami dan mertua di China.

Kementerian Luar Negeri Indonesia menyebut perlindungan untuk para pengantin pesanan ini rumit karena bersinggungan dengan institusi privat, yaitu rumah tangga.

Hal tersebut diwartawan wartawan BBC Indonesia, Abraham Utama, yang berkorespondensi dengan beberapa 'pengantin pesanan' asal Indonesia yang masih berusaha pulang dari China.

Ada pula kesaksian perempuan muda yang mengaku pernah menjadi pengantin pesanan dan membantu mencari calon istri untuk laki-laki China.

Permukiman di Suzhou, China (Foto : Getty Images/LightRocket)

Dewi Asal Jakarta di Kota Cangzhou, Provinsi Hebei

Saya sejak April 2019 sudah tinggal di China. Awalnya saya tidak betah. Baru dua bulan terakhir saya bisa betah karena perilaku suami berubah sejak saya hamil. Kehamilan ini juga terpaksa, alasan supaya saya bisa pulang saja.

Saya tinggal di perkampungan, enggak tahu nama jalannya. Yang saya ingat ini dekat Mengcun.

(Melalui aplikasi pesan singkat, Dewi mengirim titik lokasi tempat tinggalnya)

Tapi ternyata suami saya tetap tidak perbolehkan saya pulang ke Indonesia. Saya harus melahirkan di sini.

Suami bilang selama hamil saya boleh naik pesawat. Dia juga takut anak saya nanti malah berkewarganegaraan Indonesia. Banyak alasannya. Saya diminta terus-menerus istirahat di rumah.

Suami saya kerja kotor, sepertinya berhubungan dengan besi. Ayah dan ibunya meladang. Kakak perempuannya kerja di pengadilan, mengurus berkas.

Hana Asal Kalimantan Barat di Kota Suzhou, Provinsi Jiangsu

Hubungan antara saya, suami, dan keluarga di China sebenarnya baik. Kami sempat bertengkar gara-gara saya sempat meminta dipulangkan.

Saya tidak tahu paspor saya ada di mana. (Hana menikah dan tinggal di Suzhou sejak Juli 2019)

Kondisi saya tidak fit, mungkin karena faktor cuaca. Saya tidak pernah mau diajak suami untuk bekerja. Akhirnya saya hanya disuruh mengurus rumah, kadang-kadang juga mencuci baju mertua.

Saya rindu dengan anak kandung dan keluarga saya di Indonesia. Di sini saya bagaikan burung. Saya bisa saja kabur, tapi saya bingung harus ke mana. Kantor KBRI jauh.

(Jarak antara pusat Kota Suzhou dan kantor KBRI di Distrik Chaoyang, Beijing, mencapai lebih dari 1.100 kilometer. Perjalanan bisa ditempuh selama sekitar 12 jam perjalanan darat)

Saya tidak mengalami kekerasan, mungkin karena pernikahan ini ilegal dan penyiksaan bisa dihukum berat.

Saya tidak tahu harus minta tolong ke siapa untuk pulang ke Indonesia. Saya minta tolong ke aktivis migran, tapi mereka selalu meminta saya untuk bersabar.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini